| Sabtu, 05 Juni 2004 | NASIONAL |
Mbah Umar Tapa Pendhem Tujuh Hari
TEMANGGUNG- Aksi yang dilakukan Sumarman (56) memang spektakuler. Bapak enam anak warga Dusun Kenangkan, Desa Watukumpul, Kecamatan Parakan, Temanggung, itu nekat melakukan tapa pendhem (semedi dalam tanah-Red) selama tujuh hari tujuh malam. Jumat sore (4/6), pukul 15.20, dia mengakhiri semedinya yang dilakukan di kompleks Makam Selo Bendero yang terletak di dusun tersebut. Ribuan warga di sekitar tempat tinggalnya tumplek bleg menyaksikan pembongkaran "makamnya" yang berlangsung sekitar 20 menit. Begitu makam dibongkar, Sumarman yang akrab disebut Mbah Umar itu masih tampak segar berada di dalam tanah ukuran 2 X 1 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Para kerabat langsung mengganti kain kafan yang membungkus tubuhnya dengan pakaian, berupa kaus hijau, sarung, dan kopiah. Begitu terlihat Mbah Umar sehat, semua pengunjung di sekitar makam berteriak kegirangan. Sedangkan enam anaknya yang menunggui di tepi "makam", langsung menangis. Mereka tak kuat menahan haru melihat ayahnya keluar dari tempat semedinya. Uniknya, fisik Mbah Umar tetap sehat. Malah dia menolak ketika warga akan membopongnya menuju rumah. Dia tetap berjalan kaki dari makam tempat semedi sampai rumah sejauh 300 meter, meski beberapa warga memapahnya. Sampai di rumah, Mbah Umar langsung mandi. Selanjutnya duduk bersama para tamu yang sudah berjejal dalam ruang depan rumahnya yang berukuran 3 x 5 meter. Keselamatan Pilpres Kepada para tamunya, Mbah Umar hanya mengemukakan, semedi yang baru saja dilakukan bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar bangsa Indonesia diberi keselamatan dalam melaksanakan Pemilu Presiden pada 5 Juli mendatang. Terutama warga Temanggung, dan lebih khusus bagi Desa Watukumpul. "Lebih penting kita harus selalu ingat dan takwa kepada Yang Mahakuasa. Ini saya ingatkan, mumpung kita semua masih punya waktu," katanya singkat. Menurut Imam Sahudi (18), anak Mbah Umar, ayahnya melakukan tapa pendem sejak Jumat Kliwon (28/4). Imam Sahudi adalah anak yang setiap hari menunggu di kompleks makam selama ayahnya melakukan aksi tersebut. "Sebelum masuk liang, Bapak telah diselamati layaknya orang mati. Pada saat masuk liang, tidak mengenakan pakaian kecuali kain kafan yang dilekatkan seperti orang mati," katanya. Selama ini, kata Imam, sebelum melaksanakan tapa pendem itu ayahnya sudah sering melakukan tirakat, seperti puasa tujuh hari tujuh malam secara terus-menerus, maupun semedi beberapa hari di dalam kamarnya. Tapi untuk tirakat tapa pendem baru dilakukan kali ini. Di dusun itu, Sumarman dikenal sebagai orang pintar yang sering dimintai warga untuk menyembuhkan penyakit serta permasalahan hidup. Warga yang datang kepadanya tak hanya dari daerah setempat, tapi juga luar kota seperti Magelang dan Kendal.(nt-69t) | ||||