| Sabtu, 05 Juni 2004 | BANYUMAS |
Bayi Lahir Sudah BergigiPURWOKERTO - Warga Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, sejak Selasa (1/6) dikejutkan oleh lahirnya seorang bayi. Bayi perempuan yang lahir dari sepasang suami istri warga setempat, matanya menonjol berwarna merah, kepala tak berambut, mulutnya lebar, dan sudah memiliki gigi. Kedua tangan dan kakinya memiliki jari-jari yang tidak normal. Kulitnya tumbuh selaput seperti sisik, dan hidungnya tanpa cuping, hanya berlubang. ''Melihat kondisi bayi yang lahir itu, warga sini menyebutnya sebagai bayi ''ajaib.'' Soalnya matanya menonjol keluar tertutup selaput berwarna merah dan begitu lahir sudah memiliki empat buah gigi, dan kulitnya bersisik,'' tutur Warto (45), warga Sambirata yang sempat melihat bayi ''ajaib'' itu. Bayi itu lahir pada Senin (31/5) sekitar pukul 05.00. Kelahirannya ditolong dukun bayi setempat dan lahir tanpa ada hambatan. Namun ketika lahir, dukun dan orang tuanya sempat terkejut karena sang jabang bayi memiliki keanehan. Berat badannya normal, yakni 2,8 kg dan panjang sekitar 35 cm. Tapi kelahiran bayi itu ternyata tak berumur panjang. Sebab, pada Kamis (3/6) sore bayi ''ajaib'' itu akhirnya meninggal. Meski sudah meninggal, kelahiran bayi itu masih menjadi bahan pergunjingan penduduk setempat. Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) Kabupaten Banyumas dr Khoerul Mufied kepada Suara Merdeka kemarin mengatakan, kelahiran bayi seperti yang terjadi di Desa Sambirata itu tak ada sangkut pautnya dengan hal-hal yang bersifat takhayul. ''Bayi itu hanya lahir dengan kondisi tidak normal. Itu terjadi karena beberapa faktor ketika masih dalam kandungan kurang terjaga kesehatannya,'' jelasnya. Setelah mendapat laporan kelahiran bayi dengan kelainan itu, dari Puskesmas Cilongok I, Mufied bersama tim DKKS, Puskesmas, dan desa, pada Rabu (2/6) langsung datang ke rumah orang tua bayi. Kelainan Menurut Mufied, melihat kondisinya bayi itu hanya lahir dengan kelainan. Penyebabnya adalah nonheriditer atau bukan karena keturunan, tapi disebabkan oleh faktor kongenital yang terjadi pada saat kehamilan. Kongenital itu kemungkinan karena infeksi TORCH (toxiplasmosis, others, rubella, citomegalovirus, herpes) atau akibat konsumsi obat-obatan dan jamu yang berlebihan oleh ibunya saat hamil. DKKS saat berkunjung ke rumah orang tua sang bayi sebenarnya telah menyarankan agar bayi dan ibunya dibawa ke RSU Banyumas untuk perawatan tanpa dipungut biaya. Tetapi orang tua sang bayi tak bersedia. ''Rupanya orang tuanya sudah pasrah dengan keadaan yang ada sampai akhirnya Kamis sore bayi itu meninggal,'' jelasnya. Untuk menghindari terulangnya kasus seperti di Sambirata itu, kepada para ibu yang sedang hamil diminta untuk memeriksakan kandungannya secara rutin ke bidan atau dokter, serta memenuhi anjuran untuk tidak minum obat-obatan dan jamu secara berlebihan. (G23-74) |