logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Mei 2004 RAGAM
Line

Syphilis, GO Sering Muncul di Semarang

SEXUAL Transmited Infections yang lebih sering disebut sebagai Infeksi Menular Seksual (IMS) didefinisikan sebagai penyakit karena adanya invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin.

Risiko penularan IMS dan HIV/AIDS semakin tinggi pada perilaku yang sering berganti-ganti pasangan. Pekerja Seks Komersil (PSK) dan Klien merupakan kelompok risiko tinggi akan tertular IMS dan HIV/AIDS. Klien erat dengan istilah 3M yaitu man, mobile and money (laki-laki, selalu berpindah dan uang).

Istilah ini salah satunya dapat diterapkan pada profesi pengemudi dan kru truk maupun bus). Mereka seringkali menjumpai titik-titik yang terdapat PSK mangkal dalam melaksanakan pekerjaannya.

Di Kota Semarang

Syphilis dan Gonorrhoea (GO), jenis IMS yang sering muncul. Menurut data IMS di kota Semarang dari tahun 1994 sampai 2000 tercatat 463 kasus syphilis, 647 GO, 3.409 jumlah penyakit lainnya. (Renstra HIV/AIDS kota Semarang 2004-2008). Pada pemeriksaan 80 pengemudi dan kru bus maupun truk di kota Semarang pada bulan Januari-Februari 2004 menunjukkan 38% dari total keseluruhan teridentifikasi adanya diplococus dalam tubuhnya.(Griya ASA PKBI Kota Semarang, Maret 2004).

GO dan Syphilis masih dapat diobati sempurna, tetapi HIV/ AIDS belum dapat diobati. Sementara jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah Kota Semarang dari tahun ke tahun meningkat cukup signifikan. Data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Semarang menyebutkan dari tahun 2002 sampai pertengahan 2003 ditemukan tambahan 12 kasus yang terlaporkan. Sampai sekarang telah ditemukan 48 kasus, sedangkan kasus yang tidak terlaporkan dapat dipastikan jauh lebih banyak lagi.

Neisseria gonerhoeae, bakteri berbentuk ginjal dengan garis tengah 0,8 um selalu berpasangan, sehingga disebut diplococus. Reaksi Gram bersifat negatif, sangat rentan terhadap hidup lama di luar tubuh penjamunya. N.gonerhoeae menyebabkan infeksi pada saluran urogental. Penularannya hampir selalu terjadi melalui kontak seksual, dengan masa inkubasi antara 2-8 hari.

Sama halnya dengan IMS lainnya, gonerhoeae lebih banyak mempengaruhi wanita dari pada pria. Karena wanita lebih mudah terinfeksi dari pada pria. Kemungkinannya 50-60% di banding 35%. Cilakanya 50-80% wanita yang terinfeksi itu tidak menimbulkan gejala (asimtanik), sehingga biasanya mencari pengobatan setelah terjadi komplikasi yang lebih berat. Seperti terjadinya salpingitis (radang saluran telur) atau penyakit radang panggul (PRP), yang pada gilirannya dapat menyebabkan kemandulan, kehamilan ektopik, nyeri panggul menahun, dan PRP yang berulang.

Mendesak

Kebutuhan untuk menanggulangi IMS dirasakan semakin mendesak. Terbukti IMS yang tidak diobati dengan baik dapat memudahkan penularan HIV. Pada kasus HIV dengan infeksi gonerhoeae tidak begitu jelas apakah gonerhoeae yang meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi HIV atau sebaliknya. Atau karena mempunyai faktor-faktor risiko penularan yang sama, maka tampak ada hubungan positif antara kedua infeksi ini.

Orang-orang yang suka berganti-ganti pasangan seks, berisiko tinggi untuk tertular IMS, termasuk infeksi gonerhoeae. Sesuai sifat pekerjaannya, wanita penjaja seks (WPS) termasuk di dalam kelompok ini. Tahun 2003 di tujuh kota di Indonesia telah dilakukan penelitian oleh SubDit PMS/HIV/AIDS Ditjen PPML dan PL serta LitBangKes Depkes. Lembaga tersebut bekerja sama dengan program Aksi Stop AIDS (ASA) yang hasilnya prevalensi gonerhoeae di kalangan WPS berkisar antara 11% sampai 25%.

Masalah infeksi gonorrhoea dipersulit dengan timbulnya stain bakteri penyebab yang resistensi terhadap pengobatan. Karena adanya strain N.gonorhoeae yang mempunyai plasmid pembawa gen resisten. Perannya dalam pembuatan penilicilinase atau B-laktamase, ataupun bisa karena adanya mutasi kromosom dari bakteri yang bersangkutan.

Resistensi terhadap pengobatan baru biasanya terjadi hanya dalam beberapa tahun setelah obat baru diluncurkan. Strain penicilinase-producing N.gonorhoeae (PPNG) pertama kali dideteksi pada tahun 1976 dan tetracycline resisten N.gonorhoeae (TRNG) pertama kali dilaporkan pada tahun 1985.

Studi yang dilakukan pada WPS di Surabaya (1993) memperlihatkan strain PPNG dan TRNG sudah ada di Indonesia. Dari 86% isolati, sebanyak 89% resisten terhadap penicillin, 98% terhadap tetraciklin, serta 94,2% dan 91,7% menunjukkan kerentanan yang menurun terhadap eritromicin, gentamicin, sefalosporin (cefriaxmo, cefoxitin, cefixime), fluookuinolon (ofloksasin, ciprofloksasin, dan klorampenicol). (TOR, Surveillans Resistensi Mikrobiologi N Gonorhoeae ASA FHI, Maret 2004).

Hasil penelitian di Surabaya (1993) tidak beda jauh dengan hasil penelitian di Bandung (1994) dan Jakarta (1998) untuk obat-obatan sefalosporin dan fluorokuinolon. Tetapi hasil penelitian dan pemeriksaan resistensi yang dilakukan oleh BLK Surabaya dari 91 isolat sepanjang tahun 2002, menunjukkan kerentanan yang menurun pada dua golongan obat tersebut. Sebanyak 61,5% sensitif terhadap Cyproxin, 74,7% sensitif terhadap Ofloxacin dan 57,1% sensitif terhadap Cefriaxone.

Kota Semarang terus berkembang. Tandanya arus urbanisasi yang tinggi, meningkatnya sektor industri, sarana transportasi dan komunikasi. Ini bila tidak diimbangi dengan pendidikan dan ketrampilan yang memadai merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya kegiatan prostitusi di kota Semarang. Pada akhirnya dapat meningkatkan penyakit IMS dan HIV/AIDS pula.(Dr Yoga/Koordinator Klinik Griya ASA PKBI Kota Semarang-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA