| Senin, 31 Mei 2004 | OLAHRAGA |
Pasukan Muda Jadi Andalan KroasiaBIASANYA, pelatih yang sukses membawa tim masuk ke putaran final menuai banyak pujian. Namun nasib Otto Baric (70), pelatih timnas Kroasia, benar-benar pengecualian. Tak lama sesudah tim asuhannya lolos dari babak kualifikasi Euro 2004, menyusul kemenangan mereka atas Slovenia dalam pertandingan kedua play-off, Baric justru mendengar kabar bahwa kontraknya tak akan diperpanjang. Berita ''menjengkelkan'' itu diembuskan oleh Zdravko Mamic, pejabat berpengaruh di Federasi Sepak Bola Kroasia. Mamic, yang juga wakil ketua klub Dinamo Zagreb, bahkan melontarkan sindiran sengit. ''Halo Portugal! Selamat tinggal Otto!'' Ironisnya, Mamic bukan satu-satunya orang yang gencar melakukan kampanye anti-Baric. Beberapa pejabat lain disebut-sebut mendorong Zvonimir Boban, eks kapten timnas Kroasia, untuk masuk ke gelanggang perebutan posisi pelatih. Padahal, kontrak Baric baru habis masa berlakunya pada akhir tahun ini. Tak ketinggalan, pers Kroasia pun ikut membeberkan sejumlah masalah kepelatihan Baric. Daftar persoalan tersebut meliputi perubahan-perubahan taktik yang teramat sering. Baric dituding selalu mengubah formasi antara 3-5-2, 3-4-3, dan 4-4-2. Perubahan anggota skuad juga sering terjadi sejak dia mengambil alih posisi Mirko Jozic, Juli 2002. Perselisihan juga pernah terjadi di ruang ganti pakaian. Setelah ditahan seri 1-1 di kandang sendiri oleh Slovenia dalam pertandingan pertama play-off, Niko Kovac - pemain tengah Hertha Berlin - menunjukkan ketidaksenangannya terhadap taktik yang diterapkan sang pelatih. Menepis Tudingan Untunglah Baric menemukan sekutu yang tak kalah pengaruhnya dari Mamic. Dia adalah Vlatko Markovic, Ketua Federasi Sepak Bola Kroasia. Markovic menilai, penampilan Kroasia yang hanya mampu bermain imbang pada play-off pertama memang ''memalukan''. Namun dia menambahkan, Baric layak mendapat pujian atas kemenangan (1-0) Kroasia pada play-off kedua di Ljubljana, Slovenia. ''Tak diragukan lagi, Baric memang hebat meski gagasan-gagasannya tidak selalu bisa dipahami setiap orang,'' pujinya. Baric, mantan pelatih Austria, terbukti mampu menepis tudingan-tudingan miring terhadap dirinya. Dia ditunjuk sebagai pelatih Kroasia, saat timnas tersebut terhuyung-huyung. Dia harus membenahi tim yang semangatnya merosot drastis lantaran gagal menembus putaran pertama Piala Dunia 2002. Dia dituntut melakukan rekrutmen besar-besaran, menyusul pengunduran diri pemain-pemain, seperti Zvonimir Soldo, Robert Jarni, Robert Prosinecki, Davor Suker, dan Alen Boksic. Meski tantangan membenahi timnas tersebut tidak kecil, Baric tetap yakin dapat mengatasinya. Dia bahkan berulang kali mengatakan bahwa Kroasia mampu lolos dari putaran penyisihan Euro 2004. Ketika hasil dua pertandingan pertama tidak terlalu menggembirakan, ditahan seri tanpa gol oleh Estonia dan kalah dari Bulgaria (0-2), dia merasa perkataannya tersebut bisa menjadi bumerang. Namun empat pertandingan berikut, Kroasia selalu memetik kemenangan. Dia mulai melihat peluang untuk lolos dari kualifikasi. Tim asuhannya kemudian kalah (1-2) dari Belgia dan menang atas Bulgaria (1-0). Pasukan Baric finis dengan menempati peringkat kedua, setelah Bulgaria, dalam Grup 8. Terbuktilah bahwa dia bukan sekadar sesumbar. Pemain Muda Prestasi terbesar Baric adalah memasukkan begitu banyak pemain muda ke dalam pasukannya. Wajah-wajah baru yang penuh semangat dan sangat bangga pada tim. Tentu saja, mereka punya talenta yang tak bisa dianggap remeh. Lihatlah barisan pemain tengah seperti Marko Babic (Bayer Leverkusen), Dario Srna (Shakhtar Donetsk), dan Jerko Leko (Kyiv Dinamo) yang gesit dan memiliki skill mengagumkan. Ivica Olic (CSKA Moskwa) akan menjadi penyerang yang mengesankan. Sementara itu, Stipe Pletikosa (Shakhtar Donetsk) menjadi pilihan utama untuk menjaga gawang dari serbuan lawan. (ws,ben-77) |