logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Mei 2004 NASIONAL
Line

Umat Buddha Rayakan Waisak


MANDIKAN BUDDHA: Beberapa orang gadis mengenakan pakaian adat Thionghoa sedang memandikan patung Buddha kecil dengan air suci. Mereka melakukan ritual itu saat memasuki vihara sebelum peringatan Puja Bakti Waisak dimulai. (79)

SEMARANG- Untuk kali pertama setelah diresmikan beberapa bulan lalu, Vihara Mahavira Graha Semarang yang berada di Jalan Marina Raya Semarang mengadakan peringatan perayaan Waisak 2548/2004, semalam. Upacara agama Buddha yang diikuti ribuan umatnya dari Kota Semarang dan sekitarnya tersebut diisi dengan kegiatan sembayangan dan pentas seni yang mengingatkan sejarah kehidupan Buddha Gotama.

Sembayangan dilakukan bersama anggota Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI). Sangha merupakan para bhikkhu, bhiksu, bhiksuni yang memiliki tanggung jawab moral untuk menyelenggarakan Trisuci Waisak Buddhis 2548/2004.

Budi Kurniawan, panitia penyelenggara peringatan perayaan Waisak di Vihara Mahavira Graha Semarang mengatakan, tema perayaan Waisak tahun ini adalah ''Kehadiran Buddha Membawa Kebahagiaan bagi Rakyat yang Berdaulat dan Pemimpin yang Bijak''.

Menurutnya, kehadiran Buddha bersamaan dengan kehadiran ajarannya yang berasaskan cinta kasih dan kebijaksanaan. ''Asas itu merupakan nurani moral yang sangat diperlukan oleh rakyat yang berdaulat, kerena tanpa cinta kasih dan kebijaksanaan, maka kedaulatan rakyat akan berjalan menuju kekacauan sosial,'' ujar dia.

Sebelum upacara agama dimulai pun sebenarnya umat Buddha yang datang telah melakuan beberapa ibadah yang biasa dilakukan ketika masuk ke dalam vihara. Mulai dari membakar hio swa (dupa) dilanjutkan dengan memandikan patung Budha sewaktu kecil dengan air suci.

Kemudian di lantai 2 vihara, beberapa umat Buddha melakukan ritual menghormati Sang Buddha, termasuk relic yang diyakini sebagai jantung milik Buddha setelah dikremasi. Seakan-akan tidak memedulikan umat yang lain, mereka mendekat dan berdoa di depan patung dan relic Buddha.

Pentas Seni

Setelah peringatan puja bakti, perayaan Waisak dimeriahkan dengan pentas seni dan nyanyian lagu Buddhis serta penyampaian pesan Dharma. Pentas seni Agama Buddha tersebut menggambarkan perjalanan Buddha Gotama menyampaikan ajarannya.

Suasana perayaan Waisak di Vihara Tanah Putih Jl dr Wahidin 12 juga tidak jauh berbeda dari Vihara Mahavira Graha. Upacara puja dan doa yang dilakukan di Ruang Dhammasala Maha Dhammaloka tersebut sudah dimulai pada pukul 17.00. Para umat Buddha yang bersembahyang di vihara tersebut melakukan Namakaragatha atau sujud pembuka yang kemudian dilanjutkan dengan Waisakha Puja Gatha atau syair puja Waisak. Sedangkan acara Dhammadesana atau khotbah disampaikan oleh Jothidhammo Thera, Wakil Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia yang juga merangkap sebagai Kepala Vihara Tanah Putih.

Dalam khotbahnya, Jothidhammo menyoroti kondisi masyarakat Indonesia yang akan menghadapi Pemilihan Presiden pada 5 Juli mendatang. Menurutnya, dalam berdemokrasi, umat Buddha tidak boleh meninggalkan ajaran agama, khususnya Buddha. Sebab, ajaran Buddha yang penuh cinta kasih dan bijaksana itu akan menghasilkan kebahagiaan. Cinta kasih bisa berupa antikekerasan, cinta damai, toleransi, dan lainnya. Sedangkan kebijaksanaan berupa menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan sosial.

''Jika umat meninggalkan ajaran Buddha seperti cinta kasih dan kebijaksanaan, maka akan menimbulkan kebencian dan perbuatan anarkis,'' tegasnya.

''Dalam pemilu nanti, presiden dan wakilnya terpilih jangan sampai meninggalkan cinta kasih dan kebijaksanaan sehingga akan membawa manfaat bagi rakyat.'' (H2,H13-15t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA