| Senin, 31 Mei 2004 | NASIONAL |
Mampukah Chrisjon Pertahankan Gelar? (1)Jepang, Gudang Juara Dunia Jago Kandang
Jepang menjadi negara pertama yang disinggahi Chrisjon dalam karier tinju profesionalnya. Sekalipun pertandingan Jumat mendatang (4/6) melawan Osamu Satu itu merupakan kiprah pertamanya di luar negeri, namun itu merupakan upanya mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu versi WBA. Berikut ini tulisan seputar dunia tinju Jepang, Chrisjon, dan Osamu Sato yang ditulis secara berseri. JEPANG, negara yang bakal menjadi tempat Chrisjon mempertahankan gelar WBA-nya, telah jauh meninggalkan kita dalam mencetak juara-juara dunia tinju profesional. Indonesia baru mencetak tiga juara, yakni Ellyas Pical (bantam yunior IBF, 1985-1989), Nico Thomas, (terbang mini IBF, 1989), dan Chrisjon (bulu WBA, yang didapat tahun lalu). Seperti halnya Korsel dan Thailand, Jepang telah banyak menelurkan juara dunia. Mereka pantas disebut tiga raksasa pencetak juara dunia untuk kawasan Asia. Juara dunia pertama dari Jepang adalah Yoshio Shirai, yang merebut gelar juara dunia kelas terbang WBC dengan mengalahkan Dado Marino (Hawaii, AS) di Tokyo, 19 Mei 1952. Sejak itu, mereka rajin mencetak juara dunia, terutama di kelas-kelas bawah. Sebut saja Hideki Todaka (bantam yr WBA), Jiro Watanabe (terbang IBF), Yoko Gushiken (terbang WBC), Hiroyuki Ebihara (terbang WBA), Shojo Saijo (bulu WBA), Katsuo Tokashiki (layang WBA), Yatsusune Uehara (ringan yr WBA), Katsua Onisuka (bantam yr WBA), Hiroshi Kawashima (bantam yr WBC), Kengo Nagashima (ringan yr WBC), Keitaro Hoshino (bantam yr WBA), dan Toshiaki Nisioka (bantam WBC). Jepang sempat pula mencetak juara dunia di kelas atas, seperti Tadasi Mihara, yang pernah menjadi juara dunia kelas menengah yr (69,8 kg) WBA. Mihara pernah tampil di turnamen tinju amatir internasional Piala Presiden I di Jakarta 1976. Namun, di semifinal dia dikalahkan oleh "buldoser" asal Papua, Frans Bonsapia. Shinji Takehira yang ketika masih menjadi juara OPBF pernah mengalahkan bintang ring kita, Fransisco Lisboa, sempat pula menikmati gelar juara dunia kelas menengah yr WBA. Tinggal Satu Kini, seperti halnya Indonesia, Jepang paceklik juara dunia. Negeri matahari terbit itu tinggal memiliki seorang juara, Masanori Tokoyama. Jagoan asal Korut yang mempunyai nama asli Chong Chang-soo itu, cukup spektakuler sejak merebut gelar dunia bantam yr WBC dengan mengalahkan fighter Korsel Cho In-joo (Korsel). Hingga kini, dia telah mempertahankan gelarnya delapan kali. Jika Osamu Sato Jumat mendatang mampu mengalahkan Chrisjon, Jepang bakal memiliki dua juara dunia. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, kalau negeri itu banyak mencetak juara dunia dalam perebutan gelar yang berlangsung di kandang sendiri; alias juara dunia dari Jepang terkenal sebagai jago kandang. Itu semua lantaran mereka ditunjang kekuatan finansial promotor setempat. Para promotor menginginkan petinju mereka bertanding di kandang, agar selain peluang keluar sebagai pemenang lebih besar, mereka juga akan mengantongi keuntungan banyak. Para promotor itu pandai mengemas bisnis tinju, untuk kemudian dijual ke stasiun-stasiun televisi swasta. Untuk partai nasional saja laku dijual, apalagi sebuah pertarungan tinju dunia yang melibatkan petinju tuan rumah. Penonton akan berbondong-bondong ke stadion, yang merupakan tujuan utama sponsor. Jika ada tawaran duel di luar negeri, para promotor atau manajer petinju Jepang biasanya akan memasang tarif tinggi, dengan harapan tak tersentuh oleh promotor asing. Juara dunia sangat dihargai oleh promotor Jepang. Untuk seorang juara dunia yang baru seperti Chrisjon, mereka berani membayar 100.000 dolar AS (Rp 900 juta lebih). Sementara itu promotor Indonesia plus para sponsor, langsung angkat tangan ketika Chrisjon memasang tarif 100.000 dolar AS. Untuk Masanori Tokoyama, promotor berani membayar lebih tinggi lagi, 300.000 dolar AS. Untuk itu, petinju Jepang tak mau susah-susah bertanding ke luar negeri. Toh di dalam negeri kepalan mereka sudah dihargai dengan honor tinggi. Kendati sudah diberi fasilitas honor tinggi oleh promotor, namun tak semua beruntung di pentas tinju dunia. Seperti tahun lalu saja, setidaknya ada lima petinju mereka yang tumbang di negerinya sendiri. Keitaro Hosino kalah TKO di ronde ke-12, dalam upayanya merebut gelar dunia kelas terbang mini WBC dari Jose Aquire (Meksiko) di Yokohama, Juni 2003. Di tempat yang sama, selang sebulan, giliran Yutaka Niida menderita kalah angka ketika menantang Noel Arambulet (Venezuela), juara kelas terbang mini WBA. Kozo Ishii mencium kanvas di ronde kedua, dijungkalkan Oscar Larios (Meksiko) di perebutan gelar dunia kelas bantam WBC. Kemudian di Tokyo, Toshiaki Nishioka juga kalah angka dari Veerapol Sahaprom (Thailand) ,juara dunia kelas bantam WBC. Sedangkan Hidenobu Honda, juga takluk dengan angka ketika menantang Alexander Munoz (Venezuela) di title fight kelas super terbang WBA. Tahun ini pun, sudah ada satu petinju Jepang yang tumbang ke pentas dunia. Yoshinori Nishisawa dipukul KO di ronde ke-4 oleh Antony Mundine (Australia), juara dunia kelas menengah super WBA di Wollonggong (Australia), Januari lalu. (Paulus Noor Mulia-22a) | ||||