| Senin, 31 Mei 2004 | SEMARANG |
Bahasa Inggris Masih Jadi MomokSEMARANG- Kalangan pendidik menilai pelajaran bahasa Inggris di sekolah selama ini masih sebatas mengajarkan pengetahuan bahasa. Kondisi ini berbeda dari muatan kurikulum yang justru menitikberatkan pada kemampuan siswa berbahasa. Akibatnya, ujian bahasa Inggris selama ini menjadi momok bagi siswa. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) Drs Yan Mujiyanto MHum mengatakan, tujuan pelajaran bahasa Inggris adalah memberikan bekal kecakapan. Karena itu, terkandung muatan pelajaran menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Meski siswa sudah menerima pelajaran bahasa Inggris sejak SMP, kata dia, sangat mungkin seorang lulusan SMA tidak menguasai bahasa asing tersebut. ''Kalau dihitung-hitung, sebulan siswa hanya belajar bahasa Inggris 16 jam/minggu,'' ujarnya, di sela-sela Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat SLTA Se-Jateng dalam rangka ESA Week, Sabtu (29/5). Tanpa latihan ekstra, siswa tak mungkin lancar berbahasa Inggris. Sebagai perbandingan, standar yang biasanya digunakan untuk melatih kecakapan berbahasa adalah 900 jam/minggu. Peran Guru Peran guru, lanjut Mujiyanto, menjadi faktor utama dalam membentuk kecakapan siswa. Terutama di sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan kelompok bermain sudah diajarkan bahasa Inggris, guru merupakan faktor penentu. Pembantu Rektor Bidang Akademik Unnes Prof Dr Mungin Eddy Wibowo MPd juga meragukan kemampuan guru dalam mengajarkan bahasa Inggris. Media dan metode pengajaran bahasa Inggris, ungkap Mungin, sudah saatnya diperlebar agar tidak hanya seperti yang ada dalam buku. Tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa, kata dia, dapat menjadi topik bahasan selama pelajaran. ''Topik yang dekat dengan siswa tentu menjadi daya tarik tersendiri,'' katanya. Karena itu, untuk anak TK-SD, Mungin mengusulkan pelajaran bahasa Inggris didesain berbasis budaya. ''Permainan dan nyanyian merupakan salah satu media yang disukai anak-anak.'' Selain itu, Mungin menganjurkan adanya variasi metode dan struktur yang didesain guru di luar jam pelajaran. Praktik berbahasa, lanjut dia, tak selalu memerlukan laboratorium yang lengkap. Laboratorium yang sesungguhnya dapat diciptakan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. ''Kalau perlu, pada hari-hari tertentu semua warga sekolah berbicara dalam bahasa Inggris,'' usulnya. Selain mengasah keterampilan siswa, guru-guru lain bisa belajar. Hal itu merupakan jalan tengah, sebab penambahan jam pelajaran sulit dilakukan karena harus disesuaikan dengan kebutuhan mata pelajaran lain. (nik-89) |