| Senin, 31 Mei 2004 | SEMARANG |
Wayang Kemasan Piawai Masih Perlu DikembangkanSEMARANG- Bentuk ideal pakeliran yang perlu dikembangkan saat ini adalah wayang kemasan piawai. Dalam Wayang kategori tersebut ditemukan keseimbangan berbagai unsur, yakni devosional, etika, estetika dan hiburan, sehingga mampu menjembatani dua pihak yang berseberangan, baik yang bersifat konservatif maupun progresif. Demikian dikatakan Bambang Murtiyoso SKar MHum dalam diskusi "Wayang dan Tantangannya setelah Diakui sebagai Adikarya Budaya Lisan Nonbendawi Warisan Peradaban Manusia." Kegiatan itu atas kerja sama Paguyuban Karawitan Pranoto Raras Unika Soegijapranata dengan Kursus Pedalangan Ngesti Budaya Semarang di ruang teater gedung Thomas Aquinas Lantai III kampus Unika Soegijapranata, Sabtu (29/5). Wayang kemasan piawai, menurut dosen STSI Surakarta itu, lebih berorientasi pada masa kini, bersifat pseudotradisional, serta mengembangkan pakem yang telah ada. Pakem tidak dipahami sebagai sesuatu yang statis dan beku. Gambaran nyata dari wayang kategori tersebut adalah pakeliran Ki Manteb Soedharsono. Dalang asal Karanganyar itu dinilai mampu menyeimbangkan antara garapan bentuk dengan isi. Model pakeliran Ki Manteb mempunyai keunggulan dibandingkan beberapa kategori pakeliran lainnya, yakni wayang lesu darah, wayang penuh vitalitas, maupun wayang garang yang gersang. Wayang lesu darah terlampau berkutat pada pakem, sehingga bersifat statis. Wayang penuh vitalitas, meski berorientasi pada masa kini, namun lebih mementingkan muatan estetika dibanding dengan unsur hiburan. Sedangkan wayang garang tapi gersang, menempatkan unsur hiburan di atas segala-galanya. Dr Andreas Yumarma Pr dari Unika Soegijapranata mencoba menggali filsafat yang menjiwai wayang untuk dikembangkan menjadi sebuah sistem pemikiran khas. Selama ini, filsafat wayang yang agung itu belum bisa dibahasakan secara ilmiah secara sistematis. Filsafat itu masih sekadar living philosophy yang lebih bersifat oral dan tradisional. Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain kajian wayang melalui pendekatan ilmiah, menegaskan wayang sebagai local wisdom yang berpengaruh global, serta membuat bagan-bagan konseptual secara rasional. (roe-45) |