| Senin, 31 Mei 2004 | KEDU & DIY |
Art for Love, Pemberontakan Seniman KampungSEPERTI apa jika seniman "memberontak''? Mereka memberontak dengan menyelenggarakan pameran lukisan, patung, tarian, dan pantomin. ''Kami memberontak terhadap keadaan yang melanda seniman, khususnya seni lukis. Selama ini yang bisa menyelenggarakan pameran dan dikunjungi ratusan orang, termasuk kolektor, hanya pelukis yang sudah punya nama. Sponsor datang dengan sendirinya. Lalu, bagaimana nasib pelukis kampung yang tak punya nama?'' kata Umar Chusaeni, pelukis asal Borobudur, Kabupaten Magelang. Dengan alasan itulah dia beserta sejumlah seniman Borobudur menyelenggarakan Borobudur International Open Air Gallery Art for Love, 1-4 Juni. Mereka tidak memilih gedung megah, tetapi memanfaatkan dua petak sawah seluas 4.000 m2 di Dusun Tingal Kulon, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur. Itu kegiatan kali kedua. Tahun lalu mereka menyelenggarakan Borobudur International Open Air Gallery Art for All bersamaan dengan Borobudur International Festival. ''Dulu temanya seni untuk semua tanpa memandang siapa, dari mana, dan sebagainya. Sekarang seni untuk kasih sayang,'' katanya. Semua yang mereka undang hanya seniman kelas kampung dari Borobudur, Temanggung, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya. Ternyata peserta membeludak. ''Seniman Yogya yang kami undang 20 pelukis, tetapi yang ikut 180 pelukis. Mayoritas pelukis kampung yang belum punya nama,'' kata Yogi Setyawan, Ketua I Panitia Art for Love. Para pelukis luar negeri pun berdatangan. Mereka tahu melalui informasi dari mulut ke mulut. Mereka berasal dari Hongaria, Polandia, Malaysia, Belanda, Jepang, dan Australia. ''Lukisan yang akan kami pamerkan lebih dari 200. Padahal, tahun lalu hanya 180 lukisan, karya sekitar 125 pelukis,'' kata dia. Tahun lalu harga lukisan yang dijual antara Rp 200.000 dan Rp 70 juta. Wisatawan yang membeli kebanyakan dari Singapura dan Swiss. ''Tahun ini harga lukisan termahal Rp 150 juta,'' tutur Umar. Dia menuturkan kegiatan itu merupakan wujud pemberontakan para seniman kampung. Mereka ingin karya itu disaksikan dan dihargai masyarakat luas. Karena acara itu bersamaan dengan perayaan Hari Raya Waisak, mereka pun menyesuaikan dekorasi. Tahun lalu setiap lukisan mereka tempelkan ke bambu. Di atas lukisan mereka beri payung hitam. Sekarang di atas lukisan mereka pasang kain penutup berwarna kuning, perak, atau cokelat tua. Panjang kain 300 m. Patung-patung besar Buddha karya para pematung juga mereka pajang di sawah. Bagaimana jika turun hujan? ''Kalau hujan ya lukisan kami ambil. Jika terang kami pasang lagi. Simpel kan! Kalau tidak lukisan kami bungkus plastik," katanya. Pada saat pembukaan mereka melakukan ritual penolak hujan. Dia berharap selama empat hari pameran tak turun hujan, biar pelukis kampung puas memberontak. Kubu lain yang ikut serta adalah seniman tari. Novita Low dan Phethers dari ISI Yogyakarta, misalnya, menyuguhkan tari ''Timurku''. Ada pula kolaborasi tari dan musik ''The Four Noble Trusths'' oleh seniman dan seniwati Australia, Rusia, Polandia, Aceh, NTT, dan sebagainya. Tari klasik Jawa, Rengganis dan Widaninggar, ditarikan dua penari Jepang, Neomi dan Naoko. Tersaji pula pertunjukan Capuira, tarian tradisional Brasil, orkestra trunthung dari Muneng, Warangan, Kecamatan Pakis, pantomin oleh Jemek Supardi, dagelan Mas Doegal (Banyumas, Kedu dan Tegal), dan lain-lain. ''Kegiatan ini tidak memakai jadwal. Siapa pun yang datang dan mau menari, berpantomin, mau ndhagel silakan saja. Jadi spontan, tak usah menggunakan aturan,'' kata Yogi. Bersamaan dengan acara itu, di Lapangan Tingal diselenggarakan Gebyar Budaya Pesta Rakyat Wanurejo 2004 dan Laga Rupa Borobudur di Pondok Tingal. ''Kami mengakomodasikan isu yang kurang mengenakkan masyarakat Borobudur secara budaya baik Jagad Jawa, shopping street, serta isu universal lain dengan mengemas dalam acara pesta seni ini,'' kata Umar. (Doddy Ardjono-86) |