| Senin, 31 Mei 2004 | INTERNASIONAL |
Seminar Antaragama Selisih soal YahudiDOHA - Konferensi pimpinan Vatikan tentang dialog dengan muslim berakhir di Qatar, kemarin. Sebelumnya, para peserta berselisih pendapat tentang apakah akan mengizinkan Yahudi berpartisipasi dalam pertemuan mendatang karena konflik Israel-Palestina. Emir negara Teluk itu membuka seminar dengan mengatakan kepada para pemimpin senior Islam dan Kristen bahwa pemimpin Yahudi sebaiknya juga ikut andil. Barangkali bisa bermanfaat bila kita memperluas seminar tahun depan dengan dialog Islam-Kristen-Yahudi,'' kata Syekh Hamad bin Khalifa al-Thani dalam pidato yang disampaikan, Kamis lalu. ''Ini cara untuk membangun kehidupan manusia yang layak tempat cinta, toleransi, dan kesamarataan baik bagi umat manusia.'' Namun sejumlah ulama Arab mengatakan pada forum publik Sabtu lalu, Israel pertama harus mengakhiri pendudukannya di wilayah Palestina. ''Bisakah ada dialog dengan Yahudi sementara mereka masih menduduki wilayah Palestina? Apakah hal itu tidak mengabadikan pendudukan? tanya Syekh Abdel-Karim al-Kahlout, Mufti Gaza. Seorang wakil Suriah dari Gereja Orthodok Yunani sependapat. ''Kami di Patriarchy of Antioch menolak prinsip dialog dengan Yahudi sebelum semua warga Palestina memperoleh kembali hak-hak mereka,'' kata Uskup Basilious Nassour. Ketua Dewan Kepausan Vatikan bagi Dialog Antaragama mengatakan, keputusan tersebut berada di tangan Qatar. Dewan tersebut menyelenggarakan pertemuan itu yang dilangsungkan di Qatar setiap tahun. ''Lebih baik berusaha berbicara bersama ketimbang tidak berbicara sama sekali, namun saya sependapat bahwa harus ada persyaratan pasti bagi dilangsungkannya dialog semacam itu,'' kata Uskup Michael Fitzgerald. Dia menambahkan, Vatikan mendukung dialog terpisah dengan Yahudi. Meski Qatar tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel, negara tersebut membuat marah negara-negara Arab karena mempertahankan kontak dengan negara Yahudi itu selama intifada. Yordania dan Mesir merupakan dua negara Arab yang telah menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Pertemuan antarkeyakinan di Qatar, kebanyakan diadakan di tempat tertutup dan tidak mengeluarkan pernyataan publik - memfokuskan diri pada hak-hak kelompok minoritas agama di negara-negara yang didominasi muslim dan Kristen, kata Fitzgerald.(rtr-niek-46) |