logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Mei 2004 INTERNASIONAL
Line

5.000 Warga Hong Kong Kecam China

HONG KONG - Sekitar 5.000 orang turun ke jalan-jalan di Hong Kong, Minggu kemarin, dalam satu unjuk penentangan. Hal itu dilakukan setelah Beijing memperingatkan, negara itu tidak akan segera mengizinkan demokrasi penuh bagi bekas koloni Inggris tersebut.

Ketegangan politik meningkat setelah Beijing bulan lalu menyatakan, negara itu tidak akan mengizinkan pemilihan langsung penuh pada 2007, ketika pemilihan bagi pemimpin kota itu diselenggarakan.

Ketegangan itu diperburuk oleh pengunduran diri beberapa penyiar popoler belum lama ini. Mereka mundur dengan alasan mendapat ancaman kekerasan. Salah seorang dari mereka mengaitkan ancaman tersebut dengan para pejabat China. Insiden-insiden itu menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan di wilayah tersebut.

Para pengunjuk rasa, yang membawa poster dan spanduk sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan, berpawai dari Taman Victoria menuju kantor-kantor pemerintah di pusat finansial Asia itu.

''Kembalikan kekuasaan pada rakyat (Hong Kong)! Akhiri kekuasaan satu partai (di China daratan)!'', tuntut para pengunjuk rasa dalam slogan-slogan yang dikecam para pejabat China.

Bersihkan Gerakan

Pawai tahunan itu memperingati gerakan pro-demokrasi 1989 di Beijing, yang berakhir dengan pertumpahan darah setelah para pemimpin China mengirim tank-tank untuk menindas para aktivis. Insiden tersebut menewaskan ratusan, bahkan mungkin ribuan, orang di Lapangan Tiananmen di ibu kota China.

Para pengunjuk rasa mendesak China agar membersihkan gerakan tersebut. ''Saya datang ke sini setiap tahun dan saya akan terus datang selama gerakan itu belum dibersihkan,'' kata seorang pengunjuk rasa yang mengenalkan diri sebagai Nyonya Yam.

Namun seorang penonton yang marah mengecam pawai itu, ''Orang-orang ini hanyalah pembuat onar. Mereka bertindak seolah-olah Hong Kong tidak punya banyak masalah. Bagaimana orang-orang bisa melakukan pekerjaannya sementara mereka berpawai di sini?''

''Di masa lalu, kami terus menekankan demokrasi di China. Namun tahun ini, tema kami juga tentang situasi lokal, yaitu minta kekuasaan dikembalikan kepada rakyat,'' kata Lee Cheuk-yan dari Aliansi Hong Kong dalam Mendukung Gerakan Demokrasi Patriotik di China.

Aliansi tersebut dibentuk setelah tindakan tegas pada 1989 dan dianggap subversi oleh Beijing. Banyak anggota terkemukanya adalah anggota parlemen pro-demokrasi. Mereka tidak diizinkan ke China daratan sejak kelompok itu dibentuk.

Karena Tekanan Politik

''Kami berada di sini saat ini karena tekanan politik yang dihadapi Hong Kong. Misalnya, ada pembatasan terhadap kebebasan pers dan suara kami tidak didengar,'' kata seorang pengunjuk rasa yang menyebut diri, Wong.

Pengikut pawai lebih dari 2.500 orang tahun lalu. Para penyelenggara juga berharap bisa mengadakan acara penyalaan lilin Jumat nanti untuk menarik sekitar 50.000 orang, lebih banyak dibandingkan tahun lalu yang sekitar 45.000 orang.

Sejumlah pengamat politik berpendapat, Beijing sedang melihat jumlah peserta pada dua event tersebut, serta pawai pada 1 Juli mendatang, saat negara itu berupaya mengukur sentimen publik menjelang pemilihan legislatif September mendatang.

Para cendekiawan memprediksi, kekuatan demokrasi bisa memperoleh kemenangan besar dan barangkali meraih mayoritas kursi - satu skenario yang coba dihindari Beijing.

Hong Kong dan bekas daerah kantung Portugal, Makau, merupakan dua wilayah yang dikuasai Beijing yang diizinkan memperingati gerakan Tiananmen. (rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA