logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Mei 2004 EKONOMI
Line

Risiko dan Perkembangan Bursa

KAUM interaksionis berpandangan ada return karena ada risiko. Jika risiko tidak ada maka berarti tak akan ada peluang keuntungan. Bahkan apabila risiko tak kelihatan maka akan ada yang sengaja memunculkan sehingga terbuka peluang meraih keuntungan. Jadi keberadaan faktor risiko dianggap sebagai faktor keberuntungan.

Risiko investasi pada saham dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu: (1) Exchange Rate Risk, (2) Interest Rate Risk, (3) Commodity Price Risk, dan (4) Institutional Risk. Di antara berbagai macam risiko tersebut risiko apa yang sekarang membayangi Bursa Efek Jakarta (BEJ)?

Pertama, Exchange Rate Risk, yaitu risiko kemelemahan kurs rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS. Dalam sebulan terakhir kurs rupiah terhadap dolar AS telah melemah dari Rp 8.600 menjadi Rp 9.200 atau melemah 7%.

Kemelemahan kurs rupiah tersebut ternyata berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan bursa efek. Dampaknya, dalam waktu tersebut indeks harga saham gabungan (IHSG) telah turun dari 815 ke 733 atau turun 10,2%.

Kedua, Interest Rate Risk, yaitu ada kenaikan suku bunga yang dampaknya dapat meningkatkan beban perusahaan (emiten) yang lebih lanjut dapat menurunkan harga saham. Kenaikan suku bunga juga dapat mendorong investor mengalihkan investasinya ke pasar uang atau berupa tabungan sehingga investasi di saham turun dan selanjutnya dapat menurunkan harga saham.

Isu kemungkinan tingkat suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) naik telah menggoyahkan indeks harga saham di bursa Dow Jones dan kemudian merambah ke bursa global lainnya. Di Dow Jones penurunannya tidak begitu tinggi, yakni dari 10.450 ke 10.200 atau 3%.

Namun pengaruhnya kepada bursa regional lain justru lebih tinggi. Di antara bursa regional yang terkena dampak paling besar adalah bursa Nikkei di Jepang. Nikkei selama waktu tersebut telah turun dari 12.165 ke 11.309 atau turun 7%.

Melalui pendekatan analisis statistik ternyata kemampuan menjelaskan perubahan di bursa Nikkei lebih besar dari kemampuan bursa Dow Jones.

Berarti di antara bursa regional perubahan-perubahan yang terjadi di bursa Nikkei paling dapat menjelaskan terhadap kenaikan atau penurunan pada bursa efek Jakarta.

Ketiga, berupa Commodity Price Risk, yaitu penurunan harga komoditas para emiten sehingga akan mengurangi keuntungan perusahaan dan dampaknya dapat menurunkan harga saham serta dividen.

Harga minyak dunia kini naik hingga mencapai 41 dolar AS/barel. Minyak berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku produksi industri. Kenaikan harga minyak menyebabkan beban biaya produksi khususnya industri manufaktur lebih tinggi sehingga melemahkan aspek fundamental perusahaan.

Harga Turun

Dampaknya, harga saham perusahaan cenderung turun. Hal itu merupakan faktor lain yang menjadikan indeks bursa regional dapat turun.

Dari sisi mekanisme pasar harusnya harga minyak di Indonesia juga mengalami penyesuaian. Namun ada sistem subsidi terhadap harga minyak oleh pemerintah sehingga harga dalam negeri tidak naik, termasuk yang digunakan untuk bahan bakar sektor industri.

Hal itulah yang pada sisi lain menjadikan kinerja perusahaan (emiten) di Indonesia melalui laporan keuangan yang disampaikan banyak mengalami kenaikan.

Keempat, berupa Institutional Risk, yaitu risiko yang muncul karena ada dinamika aspek kelembagaan. Termasuk dalam hal ini adalah risiko politik.

Faktor keamanan dan politik merupakan faktor yang layak diamati dalam upaya penanganan risiko. Penyelenggaraan pemilu dapat silih berganti menjadi berita baik atau buruk. Lembaga pemeringkat dunia Standar & Poors yang memperkirakan di masa mendatang kondisi Indonesia akan lebih baik sehingga memberikan predikat positive outlook. Informasi tersebut merupakan berita baik.

Sementara itu faktor fundamental lain, misalnya posisi tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan inflasi yang terkendali, juga masih merupakan faktor yang dapat menopang terhadap risiko penurunan IHSG.

Dari berbagai faktor tersebut di atas tiga faktor utama, yaitu kurs rupiah, indeks regional, dan sinyal politik, dapat berperan sebagai sinyal utama terhadap perkembangan IHSG. Perkembangan ketiga sinyal tersebut biasanya konsisten.

Namun demikian kadang-kadang dapat terjadi perkembangannya tidak konsisten. Jika demikian yang terjadi maka berdasarkan pendekatan analisis statistik perkembangan sinyal indeks regional (Nikkei) mempunyai kemampuan menjelaskan lebih dibandingkan dengan perubahan kurs rupiah, dampaknya terhadap kenaikan, atau penurunan IHSG.

Faktor politik merupakan sinyal pada wilayah abu-abu yang sulit diduga arahnya, tetapi dinamikanya memengaruhi kenaikan dan penurunan indeks di bursa. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen Strategi dan Keuangan Program MM Undip-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA