| Minggu, 30 Mei 2004 | BUDAYA |
Valentino Rossi Hadapi Ujian BeratMEMBUAT start mulus, lalu terpuruk. Itu yang dialami Valentino Rossi, juara bertahan MotoGP, dalam tiga Grand Prix (GP) musim 2004. Dengan Yamaha yang baru ditungganginya tahun ini, pembalap Italia itu mencatat kemenangan mengesankan di GP Afrika pada 18 April. Namun performa Yamaha M1-nya kemudian seperti tak berdaya menghadapi dominasi Honda. Rossi gagal naik podium di GP Spanyol pada 2 Mei dan GP Prancis (18 Mei). Dua kali tak mampu menembus posisi tiga besar secara berturut-turut merupakan prestasi terburuk pembalap berjuluk "The Doctor" itu. Semasa masih membela Honda, Rossi tak pernah mencatat prestasi seburuk itu. Apa yang salah? Sudah menurunkah dia, atau performa motornya yang payah? Dari sisi teknis, saya lihat tak ada yang berubah pada diri "The Doctor". Dia masih yang terbaik. Yang perlu diperbaiki adalah performa motornya. Kalau mekanik tak melakukan setting yang tepat pada motor Rossi, peluangnya untuk juara bersama Yamaha kian berat. Harus diakui, dominasi Honda memang masih kuat. Buktinya, dua GP terakhir tahun ini diborong pembalap-pembalap tim Honda. Tak ada cara lain, motor tunggangan Rossi harus di-settting habis. Ketika masih bersama tim Honda, dia begitu perkasa. Kini "The Doctor" harus menghadapi ujian berat, khususnya dalam dua GP ke depan. GP Italia di Sirkuit Mugello pada 6 Juni dan GP Catalunya di Circuit de Catalunya akan menjadi tes berat Rossi bersama tim Gauloises Fortuna Yamaha. Gelar Lepas Jika di GP Italia dan Catalunya, Rossi gagal naik podium lagi, itu akan menjadi alamat buruk. Gelar juaranya bisa lepas. Untuk mengantisipasi hal itu, setting motor jadi kunci. Masih ada waktu satu minggu untuk menyempurnakan penampilan M1 yang brilian seperti di GP Afrika. Meski sudah merebut gelar juara dunia di semua kelas, Rossi tetap harus belajar mengatasi sirkuit basah. Hujan selama lomba ternyata merugikan "The Doctor". Di sirkuit basah, dia selalu gagal mengatasi kepiawaian Sete Gibernau. Masih tersisa 13 GP, sehingga jalan menuju juara tetap terjal. Bagaimanapun, Rossi mesti mewaspadai dua rivalnya dari Honda, Sete Gibernau dan Max Biaggi. Nama yang disebut terakhir itu semakin konsisten setelah mendapat motor dari pabrikan langsung. Di luar tiga nama itu, belum ada pembalap MotoGP yang pantas dikedepankan. Duet Ducati, Loris Capirossi dan Troy Bayliss masih kedodoran. Cuma Carlos Checa, Alex Barros dan Nicky Hayden yang agak menjanjikan. Di kelas 250 cc, Daniel Pedrosa akan bersaing dengan Roberto Rolfo dan Randy de Puniet. Sementara di kelas 125 cc, Andrea Dovizioso masih yang paling konsisten setelah tiga GP. (Kiminglondo, pemerhati balap motor dan mantan juara nasional-59) |