| Minggu, 30 Mei 2004 | BUDAYA |
Kuhn Butuh Pasukan yang BugarDEWA sepak bola agaknya tak berpihak pada tim nasional (timnas) Swiss. Mereka memang menjadi juara Grup X dalam babak penyisihan, sedangkan Rusia menempati peringkat kedua. Namun sejumlah masalah membayangi langkah pasukan Swiss menjelang putaran final Piala Eropa 2004 di Portugal. Cedera pemain yang tak mendapat peran penting di klub, dan kemerosotan semangat tim mengganggu persiapan mereka. Yang paling membuat pusing Kobi Kuhn, pelatih timnas Swiss, adalah masalah yang menimpa Yakin bersaudara. Padahal, Murat dan Hakan Yakin punya pengaruh besar terhadap bentuk permainan pasukan Kuhn. Murat, yang kebagian tugas mengatur pertahanan empat bek, kecil kemungkinan bisa turun ke lapangan pada 13 Juni mendatang setelah dia menjalani operasi syaraf lutut. Adiknya, playmaker Hakan, kehilangan banyak kesempatan bermain menyusul perpindahannya dari klub Basel (Swiss) ke VfB Stuttgart (Jerman). Hakan memang diincar banyak klub terkemuka Eropa. Karena itu, ketika diboyong Stuttgart, dia diperkirakan diposisikan sebagai pemain utama. Kenyataannya tak demikian. Felix Magath, pelatih Stuttgart, nyaris tidak pernah memanfaatkan tenaganya. Magath hanya memberinya satu kali kesempatan bermain. Itu pun sebagai pemain pengganti. Pertahanan Terancam Hakan yang dikenal berkemauan keras itu sadar ketidakaktifannya itu dapat merusak prospeknya untuk memperkuat timnas. Swiss tentu sangat membutuhkan Hakan yang bugar, percaya diri, dan siap mengatur gempuran terhadap pertahanan lawan. Tak seorang pun pemain menyamai kemampuannya dalam memberikan umpan akurat dan kejeliannya melihat peluang mencetak gol. Kuhn, eks pemain tengah timnas Swiss, masih dihantui persoalan lain, terutama yang mengancam lini pertahanan. Ludovic Magnin, bek kiri Werder Bremen, juga mengalami cedera lutut selama musim kompetisi ini. Stephane Henchoz, bek tengah Liverpool, bukan lagi pilihan utama di Anfield. Remo Meyer, pemain belakang 1860 Munich, menderita gangguan lutut dan tak pernah menunjukkan kinerja yang konsisten. Pemain tengah Ricardo Cabanas belum lama ini dipulangkan ke klub asalnya, Grasshoppers. Dia menderita sakit selama enam bulan penuh saat bergabung dengan Guingamp (Prancis). Timnas Swiss juga sangat mencemaskan posisi penjaga gawang mereka. Joerg Stiel yang semula menjadi pilihan utama, mengalami nasib buruk di klubnya. Dia dicoret dari daftar utama oleh Borussia Monchengladbach lantaran membuat kesalahan fatal pada saat melawan Eintracht Frankfurt, akhir Februari lalu. Dalam putaran final di Portugal mendatang, Swiss berada di Grup B bersama Inggris, Prancis, dan Kroasia. Jelas bukan tantangan ringan bagi pasukan Kuhn untuk lolos dari grup tersebut. Swiss harus menemukan format permainan yang lebih baik. Kekalahan mereka dari Maroko (1-2) dalam pertandingan persahabatan Februari lalu bisa menjadi pelajaran berharga. Bermain Total Namun tak melulu nasib buruk dialami Swiss. Alexander Frei, striker Rennes (Prancis), mulai produktif mencetak gol selama musim ini. Sementara itu, pasangannya di timnas, Stephane Chapuisat, masih menunjukkan kinerja baik untuk Young Boys. Tentu saja, Chapuisat yang sekarang berusia 34 tahun itu tidak lagi segesit masa-masa kejayaannya bersama Borussia Dortmund. Namun kecerdikan dan kemampuannya menggiring bola dapat menutupi kekurangan tersebut. Di samping itu, kaki kirinya masih menjadi ancaman gawang lawan. Mereka harus tampil total. Kesuksesan Swiss lolos dari babak penyisihan setidaknya disebabkan tiga faktor: usaha keras, kesatuan tim, dan organisasi yang baik. Di bawah Kuhn, disiplin taktik menjadi menu sehari-hari. Pendekatan Kuhn tersebut tak jauh berbeda dari yang diterapkan pelatih asal Inggris, Roy Hodgson, pada saat membawa Swiss ke putaran final Piala Dunia 1994 dan Piala Eropa 1996. Sejumlah pemain muda, yang muncul dalam beberapa tahun terakhir, merupakan sumber daya terpenting. (ws,ben-59) |