logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 30 Mei 2004 BUDAYA
Line

100 Tewas Diterjang Topan di Myanmar

YANGON - Angin topan di Myanmar menewaskan 100 orang lebih dan menimbulkan kerusakan dahsyat di Negara Bagian Rakhine, Myanmar baratlaut, lapor media pemerintah, Sabtu kemarin.

Para pejabat khawatir, jumlah korban akan bertambah. Laporan tersebut disampaikan, sehari setelah Unicef (UN Children's Fund - Dana Anak-anak PBB) mengatakan topan itu menewaskan sedikitnya 140 orang dan membuat 18.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Topan tersebut menimbulkan gelombang pasang tsunami dan banjir di empat kota dekat perbatasan dengan Bangladesh. Dampak yang ditimbulkannya tercatat sebagai bencana terburuk pernah melanda daerah itu sejak 1968, bunyi pernyataan Unicef, yang dikeluarkan di Jenewa, Jumat.

Sumber-sumber resmi di Rakhine mengatakan, jumlah korban tewas yang sebenarnya kemungkinan tiga atau empat kali lebih tinggi daripada angka yang dikeluarkan Unicef.

"Sekitar 100 perahu nelayan berada di laut menjelang kedatangan topan. Kami yakin, orang-orang di 100 perahu nelayan tersebut tewas disapu topan," kata sebuah sumber.

"Kota Myaybon terserang paling dahsyat. Beberapa pulau sepenuhnya terendam banjir. Anda bisa bayangkan bagaimana nasib orang-orang di sana," lapor koran-koran Myanmar.

Topan dahyat tersebut menyerang empat kota di Rakhine, merusak sekitar 2.350 rumah, beberapa hari lalu. Sikap menutup diri rezim militer yang berkuasa, menyebabkan bencana itu terlambat diketahui dunia.

"Topan itu menerjang kota-kota Sittwe, Kyaukpyu, Myaybon, dan Pauktaw di Negara Bagian Rakhine, 19 Mei pagi lalu. Beberapa orang tewas dan hilan," lapor sebuah koran pemerintah, Sabtu kemarin.

Topan tersebut merusakkan atau menghancurkan sekolah-sekolah, jaringan telepon, listrik, dan menewaskan banyak sekali hewan ternak. Kekurangan makanan dan air bersih dilaporkan terjadi di daerah-daerah bencana.

Pihak-pihak berwenang di Myanmar (dulu Burma) meminta PBB menyuplai 200 ton makanan, material untuk tempat penampungan sementara, obat-obatan, dan pakaian.

Gempa di Iran

Di Iran, bencana alam juga mengakibatkan banyak nyawa manusia melayang. Sebuah gempa sangat kuat melanda wilayah sekitar Pegunungan Alborz di Iran utara, menewaskan sedikitnya 20 orang dan merusak sejumlah desa.

Gempa itu, yang dicatat Survei Geologis AS berkekuatan 6,2 skala Richter, juga mengguncang Teheran (ibu kota Iran) Jumat. Orang-orang yang terkejut, lari menyelamatkan diri ke luar rumah.

Gubernur Provinsi Qarvin Massoud Emami mengatakan, sekitar 80 desa di daerahnya menderita kerusakan antara 20 hingga 80 persen. Gempa tertsebut terjadi lima bulan setelah lebih dari 20.000 orang tewas dalam bencana gempa di kota Bam, Iran tenggara.

Seorang pejabat pemerintah di Teheran, yang menolak untuk disebutkan namanya, menyebutkan jumlah korban tewas akibat gempa Jumat lalu itu adalah 20 orang, Sekitar 150 orang terluka.

Sementara itu bencana badai dan banjir besar di Haiti dan Republik Dominika di Karibia, sejauh ini dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang. Ribuan lainnya masih dinyatakan hilang dan kemungkinan besar juga telah menemui ajal.

Bantuan-bantuan internasional dan PBB berusaha segera memasuki wilayah-wilayah terparah terkena bencana.

Seorang juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Jenewa mengatakan di Haiti saja masih sedikitnya 1.500 orang dilaporkan hilang.

Tim militer AS dan Kanada, yang sudah hampir tiga bulan kebetulan berada di Haiti dalam operasi stabilisasi negara itu setelah larinya Presiden Jean-Bertrand Aristide, memulai kembali operasi pencarian korban dengan helikopter-helikopter.

Operasi pencarian lewat udara tersebut baru bisa dimulai lagi Sabtu, setelah terpaksa dihentikan Kamis lalu karena cuaca masih terus buruk di lokasi peristiwa. (rtr-ben-30)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA