logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 30 Mei 2004 BUDAYA
Line

Chrisjon Bertarung di Tokyo (2-Habis)

Andalkan Upper-cut untuk Robohkan Hulk

"SAYA ingin menjadi juara dunia," kata Christian Johanes kecil saat berumur enam tahun. Ya, sejak kecil Chrisjon-nama ringnya-memang mempunyai keinginan kuat menjadi seorang juara dunia seperti petinju legendaris Muhamad Ali. Tak heran, saat digembleng ayahnya Johanes Cahyani yang juga mantan petinju, dia tampak bersemangat dan serius. Sejak kecil dia memang sudah memperlihatkan bakat bertarung yang tinggi.

Usaha kerasnya untuk menjadi seorang juara dunia akhirnya terwujud. Pada 26 September 2003 di Denpasar, anak asuh Sutan Rambing itu berhasil mengalahkan Oscar Leon dari Kolombia dalam pertarungan untuk mengisi kekosongan juara di kelas bulu versi WBA. Kemenangan tersebut cukup membanggakan. Sebab, dia bisa mengikuti jejak para petinju pendahulunya seperti Wongso Suseno juara OPBF 1980, Ellyas Pical (juara dunia kelas bantam yunior IBF 1984), dan Nico Thomas (juara dunia kelas terbang mini IBF 1998) untuk mengharumkan nama Indonesia di pentas tinju dunia.

Meskipun berhasil merebut sabuk juara kelas bulu WBA, perjuangan Chrisjon untuk menjadi juara dunia ternyata belum selesai.

Ujian pertama yang harus dilaluinya sebagai juara dunia adalah mempertahankan gelar di Tokyo, 4 Juni nanti. Tentu itu bukan pekerjaan ringan. Selain bertarung di negeri orang, lawan yang dihadapinya juga tangguh, Osamu Sato.

Petinju asal Jepang itu mempunyai total bertanding 32 kali, menang 27 kali di antaranya 16 menang KO, kalah 2 kali, dan seri 3 kali. Tak heran, dengan rekor bertanding cukup bagus itu Sato dijuluki "Hulk", raksasa hijau yang kuat. Sebab, petinju kelahiran Kobe 16 Desember 1976 itu bergaya fighter yang tidak mudah menyerah. Selain itu, Sato juga mempunyai pukulan hook kiri yang mematikan.

Sato Jago Kandang

Permainannya yang agresif itu tak jarang membuat lawan-lawannya kewalahan dan memilih menyerah. Bermain di kandang sendiri membuat semangat dan motivasi Sato untuk merebut gelar dari Chrisjon pun akan semakin tinggi, mengingat selama ini Sato dikenal sebagai jago kandang. Ke-32 pertandingan itu dia lakukan di Tokyo.

Meski berat bertarung di Negeri Sakura, peluang Chrisjon mempertahankan sabuk juara dunianya tetap terbuka lebar. Sebab, petinju kelahiran Banjarnegara 4 September 1981 itu sudah mempersiapkan diri secara matang. Selain latihan fisik dan teknik di Lembang Jawa Barat, dia juga sudah mempelajari dan mengenali karakter bertarung Sato lewat rekaman kaset video yang dikirim oleh promotornya Daniel Bahari.

Pelatih Chrisjon, Sutan Rambing pun menyiapkan jurus-jurus sakti untuk menghindari pukulan mematikan yang dimiliki Sato. Bergerak dan terus bergerak untuk menjaga jarak dengan lawannya menjadi salah satu senjata andalannya untuk memperdaya Sato. Kelincahannya saat menjadi atlet wushu sangat mendukung latihan yang diberikan oleh Sutan. Selain itu, sang pelatih juga telah mengasah upper cut anak asuhnya itu agar semakin berbobot dan cepat mendarat sehingga mampu merobohkan "Hulk". Secara teknik, persiapan Chrisjon sudah matang.

Badan Chrisjon yang kurus (berat 57,2 dan tinggi 171 cm) memang tidak boleh diremehkan begitu saja oleh Sato. Sebab, di atas ring nanti penampilannya akan semakin ganas, tak kenal menyerah dan tahan pukul. Hal itu sudah dibuktikan Chrisjon selama menggeluti tinju profesional. Dari 33 kali bertanding, petinju yang oleh WBA dijuluki The Indonesian Thin Man (Si Kurus) itu menang 33 kali di antaranya 19 kali KO serta tidak pernah kalah dan seri. Tentu catatan bertanding Chrisjon itu lebih baik daripada Sato.

Sekadar perbandingan, saat Chrisjon bertarung melawan Park Dae-kyung untuk mempetahankan gelar juara kelas bulu PABA di Jakarta, 3 Juli 2003, dia menang TKO di ronde pertama. Lima bulan kemudian, Park juga dikalahkan Sato di Tokyo dengan KO pada ronde kedua dalam pertarungan di kelas bantam super WBA. Dari hasil pertarungan itu dapat dilihat bahwa Chrisjon bukan lawan yang enteng bagi Sato meski bertanding di Jepang.

Pertarungan Chrisjon dan Sato bakal seru dan menarik. Sebab, kedua petinju sama-sama masih muda dan bertenaga. Kedua-duanya juga punya ambisi untuk mengharumkan nama bangsa masing-masing. Faktor tuan rumah memang akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Sato untuk merebut sabuk juara dari Chrisjon. Namun, dari pengalaman bertanding, Chrisjon lebih unggul daripada Sato. Sebab, dari 33 main dia tidak pernah kalah ataupun seri. Tidak salah jika Chrisjon cukup optimitis bisa mempertahankan sabuk juaranya di Negeri Sakura nanti. (Budi Winarto-57e)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA