logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 30 Mei 2004 BUDAYA
Line

Orang Tua Balita Berkelamin Ganda Membutuhkan Bantuan


Aneh: Ny Maryatun, menunjukkan keanehan alat kelamin Aditya Dwi Pramana. - SM/Dwi Pamuji Sulistyanto

BAGI pasangan Pramono (28) dan Ny Maryatun (28), warga Jalan Tirtoyoso RT 6 RW 9 Dukuh Nanggulan, Kutowinangun, Tingkir, Kota Salatiga, hari-hari terakhir ini benar-benar membingungkan. Sebab, anak keduanya bernama Aditya Dwi Pramana (10 bulan) dikarunai Tuhan alat reproduksi yang terlihat aneh.

Secara fisik dari luar bentuknya seperti alat kelamin perempuan, tapi di dalamnya terdapat alat kelamin laki-laki lengkap dengan dua buah pelirnya.

"Face-nya memang tampak seperti laki-laki. Namun, alat kelaminnya tampak dari luar seperti perempuan. Karena itu, dia kami beri nama yang berbau laki-laki," kata Ny Maryatun didampingi suaminya kepada Suara Merdeka, di rumahnya, Sabtu (29/5). Anak pertamanya bernama Dewangga Wisnu Murti (4) hidup normal.

Pasangan muda itu tampaknya hidup di bawah pas-pasan. Pekerjaan sehari-hari Pramono adalah pedagang kaki lima (PKL) yang menjual kepingan VCD bajakan. Untuk menjualnya, dia terpaksa harus keliling dari rumah ke rumah lantaran tak punya tempat dasaran tetap. Hasilnya pun, kata Pramono, tidak bisa ditentukan.

"Kalau sedang ramai, paling-paling dapat Rp 15.000/hari. Kalau sepi memperoleh Rp 3.000/hari saja cukup bagus," tandasnya.

Ditemui di rumahnya, dia menerima di ruang tamu yang sekaligus ruang tidur. Sebab, ruang itu dilengkapi pula dengan kasur, bantal, guling, dan selimut. Di dekat dinding terdapat sebuah kursi tamu.

Ketika ditemui, Aditya-panggilan sehari-hari Aditya Dwi Pramana-sedang tidur pulas. Ketika dibangunkan oleh ibunya, dia langsung terbangun dan menetek. Wajah bocah yang pada 1 Juni nanti genap berusia 10 bulan itu tampak bersih dan sehat. Pada saat lahir dia berbobot 2,6 kg dengan panjang 49 cm.

Gerak geriknya pun tampak lincah. Kondisi alat kelamin yang seperti itu membuat Pramono dan Maryatun memberanikan diri memeriksakan ke seorang dokter spesialis penyakit dalam di Kota Salatiga. Tujuannya untuk mengetahui jenis kelamin anaknya, laki-laki atau perempuan.

Namun, dokter tak berani memberikan kesimpulan jenis kelamin Aditya. Dokter itu hanya memberikan rujukan ke seorang dokter ahli penyakit kelamin dan kebidanan di RS dr Kariadi Semarang. "Hingga sekarang kami sudah tiga kali ke RS dr Kariadi Semarang. Uang yang sudah kami keluarkan sudah lebih Rp 2 juta," kata Maryatun.

Sebagian besar uang itu, kata dia, dari berutang dan sebagian lagi dari hasil bekerja serabutan. Sekitar pada Desember 2004, dokter dari RS Kariadi Semarang itu menyanggupi melakukan operasi. Aditya memeroleh jatah operasi nomor 22. Alasannya, setiap pekan dokter itu hanya sanggup melakukan operasi satu kali.

"Katanya kalau waktunya sudah dekat, kami akan dikabari. Kalau sejak Desember hingga sekarang, berarti anak saya segera dioperasi. Namun, hingga sekarang saya belum juga dikabari," tuturnya.

Jadwal operasi yang sudah dekat ternyata tak membuat keduanya gembira. Sebab, hingga sekarang mereka belum mempunyai tabungan sepeser pun untuk biaya operasi sekitar Rp 10 juta. Biaya itu sudah termasuk untuk menentukan tes kromosom Rp 2 juta.

Dari kondisi itu, Maryatun dan Pramono berharap agar para dermawan berkenan menyumbang untuk Aditya. Sebab, kalau tak segera dioperasi, dikhawatirkan pada saat dewasa nanti Aditya akan minder lantaran alat kelaminnya tampak aneh.

Siapa saja yang akan membantu dapat mengirimkan uangnya ke rekening BRI Unit Nanggulan Kantor Cabang Salatiga bernomor 33-21-7138 atas nama Djumariah. "Tentu kepedulian para dermawan akan selalu kami kenang," ujar Maryatun lirih sambil menggendong Aditya. (Dwi Pamuji Sulistyanto-64e)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA