logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 30 Mei 2004 BUDAYA
Line

Prostitusi di Semarang Lebih Terbuka

SEMARANG-Lagi, keberadaan prostitusi anak jalanan di Simpanglima Semarang "digugat" masyarakat. Kali ini lewat sebuah buku berjudul "Prostitusi Anak Jalanan di Simpanglima". Fenomena itu diingatkan penulis buku agar mendapat perhatian lebih serius dari masyarakat dan Pemerintah (Kota Semarang).

"Sebab di Kota ini, praktik prostitusi lebih terbuka bila dibandingkan di kota-kota lain, seperti Yogyakarta dan Solo," kata Hanna Prabandari SSos (25), penulis buku tersebut.

Padahal, lanjutnya itu dengan tarif lebih mahal dari kota-kota tetangga itu. "Itu merupakan fenomena yang sungguh mencolok," kata penulis yang juga wartawan Harian Merdeka ini, seusai bedah buku yang dia tulis di gedung pertemuan Balai Kota , Sabtu (29/5).

Buku yang diterbitkan Yayasan Setara itu sebelumnya merupakan skripsi perempuan kelahiran Solo itu. Skripsi yang diambil alumnus FISIP UNS itu mengambil tema masalah prostitusi di Simpanglima.

Korban Eksploitasi

Dalam acara bedah buku itu didatangkan mantan artis Yasmine Yessy Gusman SH dan penyanyi Iga Mawarni. Keduanya ikut membedah buku yang penuh dengan pengakuan para ciblek, germo, orang tua ciblek yang kerap mangkal di tenda poci di trotoar lapangan Simpanglima Semarang itu.

Menurut Hanna, para pelaku praktik prostitusi di tempat itu sebenarnya korban eksploitasi oleh orang tuanya sendiri. "Mereka bukan pelaku tapi korban. Mereka dieksploitasi habis-habisan oleh orang tua," kata dia.

Alasan utamanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tak heran setelah terjun ke dunia itu, kini mereka dapat membangun rumah, berikut perabot dan tentunya handphone. "Mereka pun di rumah seperti ratu, karena dia penyokong kebutuhan ekonomi keluarga," kata dia yang melakukan penelitian selama enam bulan ini.

Hampir senada, Iga Mawarni mengemukakan mereka sekarang sudah mati rasa dan bersikap masa bodoh. Jadi meski berada di tengah perkotaan, mereka berani tampil beda. "Mereka sudah tidak peduli karena telanjur dicap jelek masyarakat."

Menurut dia, untuk menangani anak-anak yang sudah putus asa ini harus lain. Yessy Gusman mengemukakan, soal prostitusi di Simpanglima merupakan campuran masalah sosial dan ekonomi. Untuk mengentaskannya harus melihat dengan mata hati.

Dalam acara bedah buku itu, juga didatangkan beberapa kelompok anak jalanan dari luar kota Semarang yang sudah terbina oleh beberapa LSM. Seperti dari Paguyuban Kawula Alit Condong Catur (PKACC) Yogyakarta dan Yayasan Alit, Surabaya. Mereka diberi kesempatan memainkan beberapa lagu dengan peralatan yang dibawanya.(G17-64)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA