logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 30 Mei 2004 BUDAYA
Line

Inspirator Periklanan Politik


SM/Hartono Harimurti

PERLU membuat media untuk pemilihan capres-cawapres? Stanley Adi Prasetyo, Direktur Institut Studi Arus Informasi (ISAI) punya jawabannya. Mantan wartawan Jakarta-Jakarta itu menilai tindakan tersebut hanya melahirkan kesia-siaan.

Bagaimana kalau mendirikan media yang menjadi corong resmi sebuah partai politik? "Itu tindakan tidak efisien. Kita melihat serangkaian kegagalan sejumlah majalah yang menjadi corong parpol pada Pemilu 1999. Sebagian besar hanya bertahan selama hangatnya masa pra dan pascapelaksanaan pemilu. Pada beberapa bulan berikutnya sisanya juga ikut mati," kata pria kelahiran Malang, 20 Juni 1959 tersebut.

Menurut pendapat alumnus FT Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tersebut, kegagalan media yang menjadi corong parpol sebanding dengan fungsi memengaruhi orang-orang di luar parpol yang juga tidak berjalan.

"Kasarannya walaupun dibagikan secara gratis pun orang akan lebih dulu negative thinking. Orang akan berpendapat kalau ada yang bagus-bagus pastilah itu dibesar-besarkan saja. Apalagi kalau gayanya bombastis. Jadi, saat mau membaca saja orang di luar partai sudah punya pikiran seperti itu," kata suami Nane dan ayah Enya dan Leala tersebut.

Karena itu, tegas Stanley, parpol-parpol berpikir lebih baik pasang iklan atau beli kaveling halaman media massa daripada bikin media yang hanya menjadi corong. Dengan memasang iklan, ibaratnya numpang berita lain yang akan dibaca si pembeli koran.

Menurut mantan peneliti INFID tersebut, periklanan politik sebagai salah satu bentuk kampanye politik perlu dilakukan mengingat pendidikan dan kesadaran politik bangsa ini masih rendah. Yang masih dirasa kurang untuk mewujudkan itu semua adalah hukum positif yang terkait dengan periklanan dan peraturan kampanye periklanan politik saat ini yang tidak memungkinkan dilakukan kampanye pendidikan politik yang terbuka dan berkesinambungan.

Padahal, efektivitas periklanan akan jauh lebih tinggi jika kampanyenya dilakukan dalam jangka waktu yang panjang dan terus-menerus. Yang juga tak kalah penting adalah tanggung jawab dan kredibilitas media massa tempat iklan itu ditayangkan. "Bagaimana kemampuan media massa itu dalam mengimbangi pesan-pesan periklanan politik yang diterima dengan muatan jurnalisme politiknya yang berkualitas."

Menurut penilaiannya, masih banyak media yang idealis dalam menyikapi tawaran keberpihakan parpol melalui iklan. Hanya sedikit yang bermain "secara kasar". "Itu pun setahu saya hanya di Medan dan Makassar," katanya.

Siapa sesungguhnya Stanley? Dia akhir-akhir ini banyak terlibat dalam "pembentukan" periklanan politik yang cerdas di Jakarta. Kecintaannya dalam dunia pers telah ada sejak mahasiswa. Kini dia aktif di pers kampus dan berpengalaman mengelola majalah fakultas Imbas.

Selain itu, dia aktif mengirimkan tulisan di media massa lokal dan nasional. Lulus dari FT dia menjadi dosen di almamaternya, kemudian menjadi peneliti di INFID, dan wartawan majalah Jakarta-Jakarta selama 11 tahun. Saat menjadi wartawan hingga kini dia aktif di kepengurusan AJI. (Hartono Harimurti-72e)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA