| Jumat, 28 Mei 2004 | WACANA |
Era Baru Persaudaraan Umat IslamOleh: Ibnu DjarirPADA waktu Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengumumkan pasangan calon wakil presidennya, KH Hasyim Muzadi, 6 Mei lalu, ada tujuh butir gagasan konstruktif baru yang disampaikan oleh Ketua Umum PB NU tersebut. Di antaranya Hasyim mengemukakan, mulai saat ini hendaknya kita tidak lagi memisah-pisahkan antara golongan santri dan golongan Islam abangan. Dengan kata lain, dia mengajak kita semua untuk memasuki era baru yang menyatukan kaum santri dan kaum Islam abangan sebagai satu keluarga besar umat Islam, tanpa mempermasalahkan apa pun ormas dan orpolnya. Menurut ajaran Islam, setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat memang sudah disebut orang Islam. Mengenai seberapa jauh dia mengamalkan kewajiban-kewajiban agama, itu masalah lain lagi, yaitu tanggung jawab dia terhadap Allah. Sebagai pucuk pimpinan dari organisasi Islam yang terbesar di Indonesia, tentu Hasyim disukai dan ditaati oleh banyak pengikutnya, meski ada juga orang-orang yang kurang menyukainya. Misalnya waktu dia menerima lamaran Megawati untuk menjadi cawapres, tanpa persetujuan Ketua Dewan Syuro PKB, KH Abdurrahman Wahid ( Gus Dur) dan Rais Aam Syuriah PBNU, KH MA Sahal Mahfudh, maka banyak juga warga NU yang menyayangkan langkah Hasyim tersebut. Pandangan Hasyim untuk menyatukan kaum santri dan Islam abangan memang realistis. Para anggota NU maupun PDI Perjuangan banyak terdapat di desa-desa atau di kampung-kampung. Mayoritas warga PDI Perjuangan adalah umat Islam, tetapi mereka sering dikategorikan sebagai Islam abangan. Anggapan ini sebenarnya kurang pas, karena kini sudah banyak warga PDI Perjuangan yang mengamalkan ibadah, mendirikan masjid, menunaikan ibadah haji, dan wakil-wakil mereka di lembaga legislatif juga mendukung program-program pengembangan kehidupan beragama. Sebagai contoh terlaksananya pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah, berkat dukungan seluruh fraksi di DPRD JawaTengah, termasuk FPDI-P. Hidup Rukun Satu lagi gagasan Hasyim yang konstruktif ialah dia menjalin hubungan baik dengan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr HA Syafii Maarif. Mereka berdua memberi contoh, bagaimana seharusnya antarsesama muslim berhubungan, yaitu hidup rukun bagaikan saudara kandung. Mereka bekerja sama untuk memberantas korupsi di Tanah Air, dengan menggunakan moral forces. Ada titik kesamaan pandangan antara Hasyim dan Syafii untuk mendekati komunitas yang sering disebut Islam abangan. Sebetulnya banyak pakar dakwah yang tidak suka dengan dikotomi istilah santri dan Islam abangan yang muncul d zaman penjajahan Belanda dulu, sebab hal itu memberi kesan adanya perpecahan antarsesama muslim. Sejak berlangsungnya Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bali 24 - 27 Januari 2002, Syafii menyerukan agar Muhammadiyah melaksanakan inovasi dan diversifikasi model-model dakwahnya sesuai dengan heterogenitas dan pluralitas masyarakat pada masa sekarang ini. Di antaranya pemberian bimbingan kepada kaum Islam abangan, yang masih minim ilmu keislamannya, dan belum ada yang menanganinya secara khusus dan sistematis. Dengan konsep dakwah kultural, Muhammadiyah ingin melaksanakan bimbingan keagamaan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda adat istiadat, kecenderungan dan tingkat perkembangan budayanya, dengan menu-menu dakwah yang berbeda-beda meski substansinya sama. Harapan Masa Depan Dalam tinjauan antropologis, manusia adalah homo religius, yaitu makhluk yang memuja suatu Zat yang dianggap lebih kuasa (superhuman ). Di seluruh pelosok dunia, terdapat peninggalan tempat-tempat pemujaan atau tempat-tempat ibadah. Turunnya para nabi dan rasul yang menyebarkan agama, memberi pelajaran kepada manusia untuk menyembah Tuhan. Para rohaniwan, sebagai penerus tugas nabi dan rasul, mempunyai peran penting untuk membimbing manusia agar mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Di Indonesia, dikenal beberapa nama wali yang menyebarkan Islam di Nusantara. Prof Dr HA Mukti Ali (alm) pernah menyatakan bahwa tugas dakwah para wali masa lalu memang belum selesai, sehingga banyak warga masyarakat yang masih buta dengan ajaran Islam. Tugas dakwah para wali dilanjutkan oleh para guru atau dosen agama, dan mubalig. Namun jumlah para penyiar Islam yang profesional jauh ketinggalan dibanding dengan laju pertambahan penduduk. Mengingat kenyataan tersebut, maka sekarang ini perlu diupayakan peningkatan mutu lembaga pendidikan yang mendidik calon-calon guru agama, dosen agama dan mubalig yang profesional. Keadaan bangsa dan negara kita di masa mendatang sedikit banyak akan tergantung pada bagaimana kualitas kepemimpinan, keahlian dan integritas dari presiden dan wakil presiden yang akan terpilih kelak. Kalau kita melihat para calon presiden dan calon wakil presiden yang muncul sekarang, pada umumnya mereka adalah tokoh-tokoh yang berjiwa nasionalis religius, maka kita menaruh harapan besar, bahwa kehidupan beragama di Tanah Air kita akan tetap hidup subur. (29) --Drs H Ibnu Djarir, Ketua Komisi Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan MUI Provinsi Jawa Tengah |