| Jumat, 28 Mei 2004 | WACANA |
TAJUK RENCANAMakin Seru, Persaingan Menuju Kursi Presiden- Setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) resmi menyatakan dukungan kepada pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid sebagai calon presiden dan wakil presiden, semakin seru persaingan merebut kursi presiden. Kepastian sikap PKB sangat penting dan menjadi salah satu faktor penentu sehingga ditunggu-tunggu. Dengan adanya keputusan itu, telah terjadi koalisi dua partai besar untuk memenangkan pemilihan presiden, yakni antara Partai Golkar dan PKB. Kalkulasi politik akan makin jelas karena dua partai itu sesuai dengan hasil perolehan suara pada Pemilu Legislatif 5 April lalu setidaknya sudah akan mengantongi lebih 30% suara. Karena itu, kemungkinan maju ke putaran kedua akan semakin besar. Selain Partai Golkar dan PKB, pasangan tersebut juga mengandalkan dukungan massa NU. - Rival terkuatnya tetap Megawati-Hasyim Muzadi. Basis perolehan suara dari PDI-P lebih kurang 19% ditambah dukungan dari beberapa partai, seperti Partai Damai Sejahtera dan juga sebagian warga nahdliyyin memungkinkan pasangan ini maju ke ''final'' dengan perolehan suara pada putaran pertama lebih 30%. Pasangan lainnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla, walaupun tergolong populer dilihat dari hasil berbagai jajak pendapat, mesin politiknya relatif kecil. Partai Demokrat kendati mampu membuat kejutan pada pemilu anggota legislatif namun tetap belum mampu mengimbangi Partai Golkar, PDI-P, dan PKB. Sementara itu, Jusuf Kalla akan mengandalkan perolehan suara dari wilayah Indonesia bagian timur dan itu masih sulit diprediksi. - Demikian juga pasangan Amien Rais-Siswono. Mereka didukung oleh Partai Amanat Nasional (PAN) di samping warga Muhammadiyah. Kalangan analis politik melihat pasangan ini akan lebih menghadapi tantangan berat ketika muncul pasangan baru Hamzah Haz-Agum Gumelar. Paling tidak karena massa Islam makin terpecah suaranya. Adapun pasangan Haz-Agum relatif baru mendapat dukungan politik dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saja. Untuk itu, apabila mesin politik dan perolehan suara pada pemilu anggota legislatif yang menjadi dasar pertimbangan, kemungkinan yang akan maju ke putaran kedua adalah pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid dan Megawati-Hasyim Muzadi. Akan tetapi selalu menjadi pertanyaan, apakah dasar analisis seperti itu tepat? - Yang akan dipilih adalah figur atau orang. Integritas pribadi dan juga terutama popularitas calon menjadi faktor penting untuk menarik massa. Banyak yang merasa yakin partai politik yang besar sekalipun tak akan sepenuhnya mampu mengarahkan konstituen atau massanya memilih capres dari partainya. Misalnya, apakah sudah bisa dipastikan semua warga PDI-P memilih Megawati. Demikian pula apakah pendukung Partai Golkar otomatis mencoblos Wiranto. Sangat mungkin dukungan itu sudah lintaspartai. Artinya, mereka yang pada waktu pemilu anggota legislatif memilih tanda gambar X bukan berarti pasti mencoblos pasangan capres dan cawapres dari partai yang sama. Tidak bisa dianggap enteng popularitas pasangan SBY-Kalla atau Amien Rais-Siswono sehingga mereka pun layak disebut kuda hitam. - Yang jelas, persaingan merebut kursi RI-1 memang makin sengit. Semua partai, terutama yang bisa memenuhi kriteria electoral threshold, sudah mengambil keputusan politik. Hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tidak akan terlibat dalam dukung-mendukung ini. Meskipun demikian, bukan berarti mereka secara informal tidak ada arahan sama sekali terhadap salah satu pasangan capres-cawapres. Karena itu, sesungguhnya analisis yang dibuat bisa semakin detail dan jeli. Meskipun tetap belum akan ada yang bisa menjamin karena dasarnya adalah basis dukungan partai politik, sementara masih ada keraguan apakah perolehan hasilnya akan sama dengan pemilu anggota legislatif. Juga masih ada unsur misteri lain misalnya dalam perebutan suara warga NU. - Banyak yang yakin, pemilihan presiden tidak mungkin selesai dalam satu putaran. Putaran pertama akan menentukan siapa yang akan lolos masuk putaran kedua. Akan tetapi belum tentu pemenang putaran pertama juga akan keluar sebagai pemenang pada putaran kedua. Diperkirakan, lobi-lobi politik kalau tak mau dikatakan politik dagang sapi, akan terjadi menjelang pemilihan presiden putaran kedua. Dan, itu akan tampak dari perubahan-perubahan dukungan politik yang akan diberikan kepada calon yang lolos. Namun sekali lagi, tak selalu dukungan partai politik itu akan sepenuhnya menjamin kepastian hasil. Suara rakyat kali ini benar-benar menjadi penentu. Dan, akan kita lihat apakah mesin politik partai juga efektif untuk memenangkan kursi presiden. |