logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Mei 2004 NASIONAL
Line

Campursari di Masa Surut (1)

Peluncuran Album Baru Makin Jarang


STOK LAMA: Etalase sebuah toko kaset di Semarang. Koleksi kaset campursari yang tersedia di dalamnya kebanyakan stok lama.(55j)

SEBAGIAN etalase kaca yang dimanfaatkan untuk memajang kaset-kaset campursari di toko kaset Leopard, kompleks Pertokoan Simpanglima Semarang terlihat kosong. Dari dua tingkat rak, hanya terisi sepertiganya. Itu pun hampir semua koleksi lama, seperti duet Manthous dan Sunyahni, Waldjinah, Bojo Loro-nya Cici Sahita, atau album-album Didi Kempot versi lama.

"Sudah lama kami tidak dikirimi kaset-kaset campursari oleh distributor. Menurut penjelasan sales yang biasa datang ke sini, stoknya sedang kosong," tutur Tini (26), penjaga toko itu.

Kondisi serupa juga terlihat di toko kaset Johar Baru, lantai II Matahari Simpanglima. Dua tingkat rak sepanjang dua meter yang disediakan untuk kaset-kaset campursari di sana pun hanya terisi sebagian, yakni pada sisi bagian depannya saja. Padahal sebelumnya, rak-rak tersebut terisi penuh dengan kaset-kaset berirama campursari. Bahkan, ujar Irma (24) sang penjaga toko, jumlah rak campursari di toko kaset itu dahulu tiga tingkat.

"Sekarang pengunjung yang datang mencari kaset campursari sudah jarang," ujarnya, "Jika kaset-kaset jenis musik lain, kayak R&B, pop, rock, dan dangdut selalu ada yang terjual setiap hari, tapi kaset campursari sering blong."

Dari fenomena-fenomena di atas, kita patut bertanya-tanya, sejatinya ada apa dengan campursari? Benarkah popularitas musik tersebut telah memudar? Ataukah sekadar kelesuan industri yang menopangnya?

Direktur Majapahit Record Semarang Haris Senopati mengakui, dalam satu dua tahun belakangan ini memang terjadi kemunduran bisnis kaset campursari. Hampir semua perusahaan rekaman yang mengkhususkan diri pada jenis musik tersebut terkena imbasnya.

Parameter paling sederhana untuk mengukur gejala itu adalah jumlah produksi dan angka penjualan album. Jika pada 2000 (masa booming campursari), Majapahit Record sanggup menelurkan album baru setiap dua bulan sekali, kini hal itu hanya bisa dilakukan dalam empat bulan. Sementara itu, dari sisi penjualan menurun drastis.

"Bila dahulu setiap album yang diproduksi rata-rata bisa terjual hingga 90% lebih, sekarang untuk mencapai 50% saja sudah bagus," tuturnya.

Lebih Segar

Meski sekadar mereka-reka, Haris menengarai kelesuan itu karena beberapa aspek yang kompleks. Pertama, penurunan daya beli masyarakat akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sebagaimana hukum kebutuhan Maslow, rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan mereka lebih memprioritaskan diri pada kebutuhan primer.

Kedua, kemerebakan pembajakan kaset menyebabkan produser berhitung mlithit sebelum meluncurkan album baru. Ketiga, faktor kejenuhan pasar akibat tampilan musik campursari yang stagnan. Menurut pandangannya, lagu-lagu campursari yang saat ini beredar di pasaran kurang mampu membangkitkan kegairahan masyarakat. Irama lagu yang lembut mendayu-dayu (mellow), tampaknya sudah tidak diminati lagi. Adapun faktor lainnya adalah kemunculan media pesaing yang menyuguhkan hiburan campursari gratis secara lebih menarik, yakni radio dan televisi.

"Sepertinya masyarakat membutuhkan kemasan campursari yang baru dan lebih segar," tandasnya.

Untuk itu, pihaknya kini tengah mempersiapkan beberapa album baru dengan warna ataupun corak yang berbeda. Dua di antaranya adalah Bojo Minggatan dan Jago Mabuk. Unsur kebaruan dalam album-album tersebut terdapat pada aransemen dan syair lagu. Pada lagu andalan lagu "Bojo Minggatan" misalnya, Haris memasukkan unsur-unsur rock'n roll ke dalam aransemen musiknya. Sementara itu pada lagu "Jago Mabuk", Haris mencoba bermain-main dengan syair yang sedikit kontroversial.

Simak saja: Selamat malam/ jago mabuk memberi salam/ di jalanan bawa botol sempoyongan/ cari obat sakit rindu/ topi miring campur ciu/ bila mabuk kambing tua dirayu-rayu.

"Inspirasinya saya dapat dari lagu 'Cucak Rowo'. Dengan syair yang sedikit berani itu, hasilnya luar biasa. Lihat saja, lagu itu selalu sukses walaupun dinyanyikan oleh banyak orang," ujar Haris.(Rukardi-33j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA