logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Mei 2004 NASIONAL
Line

Akhir Manis Mourinho


DISAMBUT PENDUKUNGNYA: Para pemain kesebelasan FC Porto di atas bak truk tiba di Stadion Dragon Porto, Portugal, disambut para pendukungnya. Kesebelasan ini berhasil meraih piala Liga Champions setelah mengalahkan AS Monaco 3-0.(55t)

GELSENKIRCHEN - Klub Portugal FC Porto menjadi tim pertama dalam 27 tahun yang memenangi Piala UEFA dan Liga Champions dua musim berurutan, menyusul kemenangan 3-0 atas wakil Prancis, Monaco pada partai puncak Champions League di Gelsenkirchen, Jerman, Kamis dini hari WIB kemarin.

Sebelumnya, Liverpool mencapai prestasi serupa pada 1976-1977. Porto meraih Piala UEFA pada musim lalu selepas mengalahkan Celtic 3-2 di final.

Tiga gol anak-anak asuhan Jose Mourinho ke gawang Monaco dicetak Carlos Alberto pada menit ke-39, Deco (71) dan pemain pengganti Dmitri Alenitchev (75). Bagi Mourinho, prestasi ini menjadi akhir yang manis.

"Ini fantastik, kami pantas meraihnya dan membuat sejarah," kata Mourinho yang dikabarkan akan menggantikan Claudio Ranieri di Chelsea. "Saya pikir, kami memberi dunia sebuah tontonan luar biasa," lanjut dia.

Dia pun mengakui, partai itu hampir pasti menjadi pertandingan terakhirnya bersama Porto.

"Saya bangga pada diri dan para pemain saya ketika kami membawa kembali piala ke Portugal dan membuat sejarah," ungkap Mourinho yang mengawali karier pelatihnya sebagai penerjemah.

Kemarin, Jorge Costa dan kawan-kawan melakukan pawai kemenangan di jalan-jalan utama di Oporto. Sayang, pawai kemenangan ini tak diikuti Mourinho yang lebih suka berkumpul dengan keluarganya.

Porto sebelumnya menjadi yang terbaik di Eropa pada 1987.

Deschamps Sedih

Pelatih Monaco Didier Deschamps sangat sedih dengan kekalahan itu. ''Ada level berbeda antara Porto dan Monaco,'' ujar pria berusia 35 tahun yang dua kali juara Liga Champions sebagai pemain ini.

''Logis mereka menang, karena lebih baik. Ini sebuah petualangan hebat, tetapi kami mengakhirinya tanpa apa pun,'' tambahnya.

Dia menjelaskan, para pemain tampil dengan keinginan kuat dan antusiasme tinggi. Kekalahan 0-3 jelas sangat sulit diterima.

Bagi Monaco, kekalahan ini sekaligus gagal mengulang sukses Olympique Marseille pada final 1993. Kala itu Deschamps menjadi bagian dari sukses Marseille.

Monaco memulai partai final dengan baik di depan 53.000 penonton. Pada menit kedua, Ludovic Giuly bertukar umpan dengan Fernando Morientes, tetapi kiper Porto Vitor Baia berhasil menyapu bola dari kaki striker asal Spanyol yang juga top scorer Liga Champions musim ini itu.

Monaco kehilangan Giuly pada menit ke-23. Dia harus meninggalkan lapangan dengan terpincang-pincang. Posisinya lalu digantikan Dado Prso.

Kehilangan Giuly membuat Monaco kehilangan ketajaman dan Porto memanfaatkannya pada menit ke-39. Penyerang Brasil berusia 19 tahun, Carlos Alberto memanfaatkan bola lambung setengah badan dengan tendangan voli kaki kanan untuk menaklukkan kiper Flavio Roma.

Porto, juara Portugal dua musim beruntun, memanfaatkan serangan balik kilat untuk menghasilkan dua gol tambahan. Tiga pemain Porto menerjang ke pertahanan Monaco yang hanya menyisakan dua bek. Deco yang berdiri bebas mendapat umpan pendek, dan dia dengan tenang membobol gawang Roma. (rtr,A7-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA