logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Mei 2004 NASIONAL
Line

Potret Capres-Cawapres (3)

Amien-Siswono, Sekarang atau Pulang Kandang?

TAMPIL menjadi garda terdepan-di luar kalangan mahasiswa-dalam mendobrak kekuasaan Orde Baru, Amien Rais justru tidak mendapat posisi apa-apa di eksekutif. Dia ''hanya'' menjadi ketua MPR, setelah menolak dimajukan sebagai calon presiden pada Sidang Umum MPR 1999. Perolehan suara Partai Amanat Nasional (PAN), yang didirikannya selepas Soeharto lengser, relatif kecil.

Ya, Amien saat itu mampu mengukur ''baju'' politiknya sendiri. Karena perolehan suara dalam Pemilu 1999 terlalu kecil , PAN tidak mencalonkan dia sebagai presiden. Hebatnya, dia justru menggalang kekuatan politik yang terdiri atas partai-partai Islam dan berbasis massa Islam, dalam suatu kaukus yang disebut poros tengah.

Di tangannya, Amien dapat mendudukkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur)-calon dari partai yang hanya meraih 13 persen suara- ke kursi presiden. Lebih hebat lagi, dia pula yang menjadi pionir dalam proses pelengseran Gus Dur melalui Sidang Istimewa MPR 2001, sekaligus mengangkat Wapres Megawati sebagai penggantinya.

Tidak berlebihan jika Amien Rais dijuluki sebagai The King Maker, kendati yang bersangkutan selalu menganggap julukan itu terlalu berlebihan. ''Masak seorang Amien Rais dapat memengaruhi pikiran 700-an orang (di MPR-Red),'' ujarnya.

Nasib Amien dan PAN dalam Pemilu Legislatif 5 April lalu sebenarnya hampir sama dengan pemilu terdahulu, bahkan sedikit merosot. Jika lima tahun lalu masih menempati peringkat kelima, kali ini melorot dua tingkat, tergeser Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sebelum pemilu digelar, Amien pernah berujar, jika perolehan suara partainya mencapai 20 persen, baru dia akan maju ke pencalonan presiden. Sedikitnya 15 persen, dengan catatan mesti berkoalisi dengan partai lain. Tapi ketika harapan itu jauh dari kenyataan, PAN tetap mencalonkan Amien.

Salah satu alasan yang mengemuka adalah langkah Amien dalam mendorong reformasi sudah terlalu jauh, dan sayang jika harus berhenti di tengah jalan. Apalagi sebagian besar agenda reformasi gagal dijalankan, baik di masa pemerintahan Presiden Abdurrahaman Wahid maupun saat Megawati berkuasa.

Pemilihan Presiden 5 Juli mendatang merupakan testamen terakhir bagi karier politik Amien. Dia pun sudah mengucapkan hal itu. Jika gagal lagi, tekatnya untuk pulang ke Yogyakarta dan kembali mengajar (di UGM) sudah bulat. Maka pilpres mendatang akan menentukan nasib Amien, apakah bakal melangkah ke Istana, atau mesti balik ke Yogyakarta dengan sejuta kenangan politiknya.

Keluarga Muhammadiyah

Amien Rais lahir di Solo pada 26 April 1944, dan dibesarkan di lingkungan keluarga aktivis Muhammadiyah. Ayahnya, Syuhud Rais, merupakan anggota Dewan Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah Surakarta. Sedangkan ibunya, Sudalmiyah, aktif di Aisyiyah.

Pendidikan dasar dirampungkannya di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Keinginan menjadi diplomat mulai muncul ketika dia kuliah di Fisipol UGM. Tapi panggilan mengajar membatalkan keinginannya. Setamat dari UGM (1968), Amien selama setahun menjadi siswa tamu di Universitas Al-Azhar Kairo.

Kemudian dia menempuh studi ke Notre Checkerses Catholic University, Indiana, Amerika Serikat, dan lulus tahun 1974. Program doktor ilmu politik ditempuhnya di Universitas Chicago (lulus 1984).

Begitu pulang ke Indonesia, kakak kandung Ketua PW Muhammadiyah Jateng Drs Dahlan Rais MHum ini langsung mengajar di almamaternya, aktif di Muhammadiyah, ICMI, BPPT, serta segudang organisasi lain. Namun waktu juga yang akhirnya mengantar Amien ke gelanggang politik.

Menyadari kekuasaan Soeharto yang sudah otoriter, dia mulai membuat serangkaian manuver politik, yang sering disebut sebagai high politics (politik tingkat tinggi). Dengan lantang dia meneriakkan perlunya segera dilakukan suksesi kepemimpinan nasional.

Amien memang salah seorang ''manusia langka''. Saat Soeharto sedang di puncak kekuasaan, dia berani mengkritiknya dengan tajam. Arah politik yang tidak menentu pada awal tahun 1998 membuat kebanyakan elite politik tak berani bertindak gegabah. Tapi Amien berani melakukannya. Dia bersatu dengan mahasiswa, dan menuntut Soeharto mundur.

Padahal, saat itu Amien nyaris akan ditangkap Soeharto. Namun TNI yang diperintah Soeharto tidak begitu saja menjalankannya, karena berisiko tinggi. Akhirnya, dengan dukungan para mahasiswa yang melakukan demonstrasi di berbagai pelosok negeri, tumbanglah kekuasaan Soeharto. Tidak heran jika julukan ''Bapak Reformasi'' melekat pada Amien Rais.

Dari empat pasangan capres-cawapres saat ini, hanya Amien yang berdiri di garda terdepan ketika tuntutan reformasi digulirkan para mahasiswa. Celakanya, elite politik yang lain baru muncul setelah Soeharto lengser. Bahkan, banyak di antaranya yang kini mendapat kursi empuk di pemerintahan.

Amien menyadari, peluangnya untuk memenangi pilpres agak berat, kalau hanya mengandalkan dukungan suara dari warga Muhammadiyah. Karena itu, merangkul tokoh nasional menjadi pilihan terbaik. Apalagi hal itu dapat meningkatkan citra dirinya, yang selama ini berkesan meninggalkan kaum nasionalis. Dan pilihan itu kemudian jatuh pada Siswono Yudohusodo.

Ukur Kemampuan`

Siswono memang sudah dikenal masyarakat, termasuk kalangan petani dan nelayan. Setelah dua kali jadi menteri di masa Orde Baru, yaitu Menneg Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi / Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998), dia mengakrabi dunia pertanian.

Meski 10 tahun menjadi menteri di kabinet Soeharto, Siswono merupakan vokalis dan reformis sejati. Dia orang pertama yang minta adanya pembatasan masa jabatan presiden maksimal dua periode, sewaktu Soeharto masih nyaman di tahta kepresidenan.

Jabatan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) diembannya sejak 1999, menggantikan mantan Gubernur Jateng HM Ismail. Sejak awal HKTI memang mengajukan nama Siswono sebagai capres. Keputusan itu diambil dalam Rakernas Mei 2003, tetapi Siswono meminta peserta rakernas berpikir ulang dan mengukur kemampuan dirinya.

Menjelang Pemilu 2004, banyak parpol yang mencalonkan alumnus ITB itu sebagai capres. Misalnya, Partai Sarikat Indonesia, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, dan PNI Marhaenisme. Tapi hasil pemilu memaksa Siswono berpikir ulang.

Sebab, perolehan suara partai-partai yang mencalonkan dirinya sebagai presiden relatif kecil. Di sisi lain, dia mulai dilirik beberapa partai besar seperti PKB, PPP, dan PAN. Namun akhirnya pengusaha kelahiran Long Iram, Kaltim (4 Juli 1943) itu memilih Amien Rais. "Pak Amien adalah tokoh yang bersih dan reformis," kata Siswono memberikan alasan menerima pinangan Amien itu. (bersambung, Dudung Abdul Muslim-48t)

Biodata Amien Rais

Lahir : Surakarta, 26 April 1944

Istri : Kusnariyati Sri Rahayu

Anak : Lima

Ayah : Syuhud Rais

Ibu : Sudalmiyah

Karier Penting:

Dosen FISIP UGM (1969-1999)

Pengurus Muhammadiyah (1985)

Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1991-1995)

Wakil Ketua Muhammadiyah (1991)

Direktur Pusat Kajian Politik (1988)

Peneliti Senior di BPPT (1991)

Anggota Group V Dewan Riset Nasional (1995-2000)

Ketua Muhammadiyah (1995-2000)

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (1999-sekarang)

Ketua MPR (1999-sekarang) (1999-2000)

Biodata Siswono

Lahir : Long Iram Kaltim, 4 Juli 1943

Istri : Ratih Gondokusumo

Anak :

1. Mutiara

2. Fitri

3. Emeralda (alm)

4. Rebecca

5. Rosi

Ayah : Soewondo

Ibu : Istriya Bintarti

Karier Penting:

Menneg Perumahan Rakyat (1988-1993)

Menteri Transmigrasi/

Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998)

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak 1999


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA