| Jumat, 28 Mei 2004 | KEDU & DIY |
Berburu Gramaphone dari Desa ke Desa''KALAU sudah senang, ke manapun akan kami kejar meskipun harus masuk pelosok desa,'' tandas Iwan Ganjar Nugroho, kolektor gramaphone dari Yogyakarta mengawali pembicaraan tentang ''kegilaannya'' mencari barang antik pemutar piringan hitam yang kini sudah sangat langka. Memang, dia mengakui tergila-gila dengan gramaphone sejak masih remaja. Semula dia hanya merasa tertarik untuk mempelajari sembari berangan-angan sekali waktu bisa memilikinya. Impian sekian tahun akhirnya terwujud saat dia mencoba berburu barang tersebut di pasar loak dan keluar masuk desa. Beberapa tempat yang pernah menjadi ajang perburuannya antara lain Salatiga, Temanggung, Wonosobo dan Semarang. Pasar-pasar elektronik bekas di Jakarta dan Surabaya juga dirambahnya. Hasilnya, kini dia memiliki 13 gramaphone berbagai model dari zaman penjajahan. ''Yang paling tua buatan tahun 1910, mereknya His Master Voice buatan Inggris. Ada lagi Columbia dan Edison,'' jelasnya menunjukkan ''mesin'' audio tersebut yang semua masih dalam kondisi terawat. Kesenangannya bukan tanpa risiko. Dia tahu pasti onderdil gramaphone sangat sulit diperoleh, bahkan boleh dibilang nyaris punah. Kalaupun ada bukan onderdil baru tetapi barang bekas yang harus dicari dari satu pasar loak ke pasar loak bukan hanya di satu kota tetapi sampai luar kota. Lulusan Sosiologi UGM itu bahkan menyempatkan diri mengutak-atik sendiri gramaphone-nya. Onderdil yang sekiranya bisa diatasi dibuatnya sendiri misal gigi penggerak. Saking telatennya, dia dijuluki teman-teman kolektor sebagai dokter gigi gramaphone. Kecuali mengoleksi playernya, Iwan juga memiliki piringan hitam tak kurang dari 700 keping. ''Kaset'' berbentuk lingkaran itu diperolehnya juga dari pasar barang bekas. Semua masih dalam kondisi terawat dan ada satu yang membuatnya bangga, dia memiliki piringan hitam seorang penyanyi tenor kawakan dari Italia. Barang tersebut sangat langka dan kini masih disimpannya. Radio Tabung Di antara kolektor gramaphone ada nama Iman Mulyono. Laki-laki kelahiran Yogyakarta 6 April 1954 itu memiliki gramaphone yang pernah menemani Sri Sultan Hamengku Buwono VII selama masih hidup. Sampai sekarang benda tersebut masih normal dan juga sering dihidupkannya. Selain gramaphone, Iman yang sering dipanggil Pak Mul mengoleksi 17 radio tabung berbagai merek. Ada Philips ''Gatotkaca'' buatan tahun sekitar 1950-an, Telefunken, Erres. Paling tua adalah Philips Trocadiro tahun 1936 yang suara basnya terasa mantap. Di rumahnya Jalan Langenastran Kidul 11 penuh dengan benda-benda antik. Tak hanya gramaphone dan radio tabung tapi masih banyak lagi seperti jam berdiri 12 dan delapan senar, lampu katrol, sepeda motor dan pernik-pernik lain. ''Jam merek GB ini kalau tak salah buatan tahun 1930-1940, senar 12 dan kalau berbunyi sangat nyaring, merdu, pokoknya enaklah,'' ujarnya sambil tertawa. Soal harga, dia hanya menyebut barang antik itu dibelinya sekitar Rp 20 juta sedangkan yang senar delapan harganya Rp 15 juta. Iwan, Iman dan beberapa temannya tidak ingin menyimpan sendiri benda-benda antiknya. Mereka bersama sejumlah kolektor barang antik dan pelukis antara lain, Endro Nugorho (kolektor gramaphone), Djohar Arifin (kolektor porselen), M Fauzi (kolektor gebyok), Ma'ruf (kolektor mebel antik), Godod Sutejo, Dewo Broto, Ari Sugiarto, Ariyadi, Atin Pekok, B Suparto, Rujiman (semua pelukis), akan mengkolaborasikan pameran lukisan dan barang antik di Pondok Tingal, Borobudur, Magelang. Kegiatan berlabel ''Laga Rupa Borobudur'' tersebut berlangsung mulai tanggal 31 Mei - 6 Juni. (Agung PW-20) |