logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 Mei 2004 EKONOMI
Line

Harga Minyak Turun di Bawah 41 Dolar AS per Barel

JAKARTA- Harga Minyak mentah dunia kembali turun di bawah level 41 dolar AS per barel karena aksi ambil untung harga minyak setelah meroket hingga 27% pada tahun ini.

Para pialang tampaknya mengesampingkan data yang dikeluarkan oleh AS berkaitan menyusutnya cadangan bensin AS yang telah memunculkan kembali kekhawatiran terhadap kekurangan minyak. AS selama ini tercatat sebagai negara dengan konsumsi minyak terbesar di dunia.

New York light sweet crude untuk pengantaran Juli turun 44 sen menjadi 40.80 dolar AS per barel atau turun hingga 1 dolar AS dari harga tertinggi yang dicapai pada 17 Mei sebesar 41,85 dolar AS per barel. Untuk minyak Brent North Sea pengantaran Juli turun 36 sen menjadi 37.08 dolar AS per barel.

Pasar tampaknya mengesampingkan data yang dikeluarkan Departemen Energi AS yang menyebutkan jumlah cadangan minyak mentahnya pada pekan lalu tidak menunjukkan kenaikan dibandingkan pekan sebelumnya yakni 298.9 juta barel. Khusus untuk bensin cadangannya bahkan turun 700 ribu barel menjadi 203 juta barel.

"Pasar telah gagal menaikkan harga meski ada berita bagus. Ini mungkin karena pasar telah mengesampingkan semua berita baik tersebut," kata Direktur Futures Research AG Edward Bill O'Grady seperti dilansir AFP.

Sementara itu, OPEC dalam sidangnya akan membahas 3 opsi untuk menurunkannya. "Ada 3 opsi yang akan dibahas dalam sidang OPEC yang akan dilangsungkan di Beirut 3 Juni mendatang," kata Ketua OPEC yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, sebelum Sidang Kabinet di Kantor Setneg Jl Veteran Jakarta Pusat, Kamis (27/5).

Dituturkan dia, opsi pertama adalah di bawah leakage yang sekarang ada. "Saya kira kalau itu dilakukan tidak akan memberikan dampak signifikan pada penurunan harga minyak. Leakage itu sekarang 2,3. Kalau diturunkan akan menjadi sekitar 2," katanya.

Opsi kedua, produksi disamakan dengan leakage. "Karena dengan adanya leakage, harga tidak bergeming. Harga tetap, walaupun tidak ada statement dari Saudi Arabia kalau dia memiliki komitmen terhadap security of supply. Tapi kenyataannya, harga tidak bergeming," ujarnya.

Opsi ketiga, significant increase production. "Diharapkan ini akan memberi dampak psikologis terhadap produksi OPEC," kata Purnomo.

Non Fundamental

Menurut dia, harga minyak mentah dunia saat ini yang tinggi banyak dipengaruhi faktor-faktor nonfundamental. Bisa faktor psikologis, geopolitik, bisa juga kekhawatiran kondisi Timur Tengah karena sebentar lagi ada pemerintahan baru di Irak.

Mengenai pertemuan anggota OPEC di Amsterdam yang tidak mengeluarkan keputusan, Purnomo menjelaskan, pertemuan tersebut hanya bersifat informal dan external meeting.

Tidak khawatir akan over supply pada kwartal III? "Di kwartal ketiga, demand akan meningkat lagi. Sebentar lagi akan dimulai dry season (demand minyak turun). Kami masih menunggu adanya pemerintahan baru di Irak. Saat ini posisinya belum jelas. Padahal itu akan memengaruhi tingkat produksi di sana, terutama di daerah Basra," urai Purnomo.

Pada awal bulan Mei 2004, harga minyak mentah dunia mencapai tingkat 40 dolar per barel untuk pertama kalinya. Sementara G7 menginginkan OPEC mematuhi komitmen jangka panjang untuk menstabilkan harga minyak antara 22-28 dolar per barel. (dtc-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA