| Senin, 17 Mei 2004 | SALA |
GMNU: Jangan Polemikkan Cawapres dari NUKOTA- Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Solo mengimbau semua elemen dalam partisipan NU agar tidak menghujat dan menyalahkan, apalagi memolitisir majunya seorang figur dalam bursa pemilihan presiden (pilpres) 5 Juli mendatang. "Seyogyanya semua elemen tetap menjaga kekompakan dalam frame kebangsaan yang lebih besar," kata Koordinator Ir Bambang Hariyadi dalam siaran pers yang dikirim ke Suara Merdeka, Minggu (16/5) kemarin. Siaran pers yang juga ditandatangani Koordinator Bidang Politik dan Budaya Moh Ansori itu menyatakan tampilnya sang Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi telah memunculkan polemik di kalangan internal. Pro-kontra terkait dengan pencalonan Hasyim yang berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri, diakibatkan kekhawatiran akan independensi NU dalam politik praktis yang dikenal dengan istilah kembali ke khitah 1926. "Polemik penegasan agar NU tidak diseret-seret dalam dunia politik inilah akhirnya yang memunculkan kecaman dari berbagai kalangan yang ditujukan kepada KH Hasyim Muzadi. Penolakan tersebut sangat kentara benar tendensi politik dibandingkan dengan keberpihakan dan bentuk eman terhadap NU." Karena itu, GMNU menyesalkan kemunculan beberapa kecaman, antara lain dilontarkan Slamet Effendi Yusuf dari Partai Golkar, Chatibul Umam Wiranu dari PKB, dan beberapa kelompok yang menolak keras atas pencalonan KH Hasyim Muzadi. Segera Diluruskan "Hal itulah yang menurut kami harus segera diluruskan, mengingat persoalan yang sering diusung dan dipermasalahkan adalah komitmen NU untuk menjaga jarak dengan politik praksis dan tetap menjaga komitmen kembali ke khitah 1926." Sesuai dengan amanat Muktamar Ke-27 di Situbondo tahun 1984, NU bukan merupakan organisasi politik. Meski demikian NU tidak akan mengekang anggota-anggotanya dalam menentukan pilihan politiknya. Selain itu Muktamar NU Ke-28 di Yogyakarta menegaskan NU harus terlibat dalam pentas politik nasional. "Karena sebagai warga negara, politik seperti itu merupakan bagian kewajiban dan tanggung jawab semua warga negara." GMNU mengimbau seluruh elemen tetap menjaga kehormatan dan hak-hak sesama warga. Sebab dalam pilpres mendatang rakyatlah yang lebih objektif dalam menilai dan menunjuk calon pemimpin yang pas bagi mereka. "Siapa lagi yang dapat diharapkan untuk membangun bangsa ini jika tidak dari tokoh yang kita punya? Karena itu biarlah rakyat yang menentukan dan mengadili semua dalam pemilihan presiden mendatang." (G13-42s) |