| Senin, 17 Mei 2004 | SALA |
Tiga Puluh Lima Preman Terjaring RaziaSOLO- Jajaran Polresta Surakarta semakin gencar melancarkan Operasi Pekat (penyakit masyarakat). Bila Selasa lalu sasarannya para wanita tunasusila (WTS), semalam target operasi ditujukan kepada para preman serta pejudi yang beroperasi di kawasan sekitar Terminal Bus Induk Tirtonadi, Gilingan. Hanya dalam tempo sekitar dua jam, dimulai pukul 19.00-21.00 lebih terjaring 35 orang tanpa identitas. Bahkan dua di antaranya ditangkap basah saat menjadi bandar judi dadu dan puteran. Hingga semalam polisi masih memilah-milah hasil tangkapan itu dengan melakukan pendataan lebih lanjut. Untuk membawa mereka ke Mapolresta Jl Adisucipto, polisi mengerahkan sebuah truk Dalmas pengangkut pasukan. "Kami belum bisa mengategorikan mereka sebagai preman, hanya karena orang itu tidak membawa surat identitas. Karena itu kami harus melakukan pendataan secara rinci," kata Kapolresta AKBP Lutfi Lubihanto SH didampingi Kasat Reskrim AKP Masrur, semalam. Dari 35 orang yang diamankan itu, lanjutnya, dua di antaranya langsung diproses. Sebab keduanya terjerat pasal 303, tentang perjudian. Mereka adalah Hadi Waluyo (38) warga Bayan, Kadipiro dan Harto Kinarsih (41) yang mengaku warga Manggung, Jeponan, Sragen. Dalam razia yang melibatkan tim gabungan dari berbagai fungsi tersebut, sempat mengundang perhatian banyak orang ketika dilancarkan di Terminal Tirtonadi. Mengetahui sedang ada razia, puluhan preman berusaha menyelamatkan diri. "Namun di antara mereka yang kita tangkap, karena tidak dapat menunjukkan identitas," papar Kanit Opsnal Reskrim Iptu Edison Panjaitan yang memimpin operasi. Razia preman dilanjutkan di kawasan timur terminal. Petugas berpakaian preman yang terlebih dahulu memasuki kawasan Randu Alas berhasil menyergap arena perjudian di dua lokasi. Ketika petugas berusaha menahan bandar, beberapa pejudi lari. Kerumunan massa menyebabkan sejumlah pejudi lolos dari kepungan. Dari dua lokasi yang dijadikan sasaran operasi, polisi berhasil mengamankan 35 preman. Sembilan di antaranya anak-anak di bawah umur dan tiga perempuan. Dalam upaya menjaring para preman, sempat bersitegang antara petugas dan beberapa orang yang bekerja di Terminal Tirtonadi. (G11,san-42s) |