logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 RAGAM
Line

Tasawuf Interaktif

Amal yang Utama

T: Prof Amin yang saya hormati, apakah ada pahala yang seimbang dengan haji, lalu apa batas seseorang yang diwajibkan haji?

Shamad Ali di Pangkah

J: Saudara Shamad di Pangkah yang saya hormati, setiap amal memiliki nilainya sendiri. Bagi yang berharta, maka amalan yang paling utama adalah mensedekahkan hartanya. Bagi pemimpin, amalan paling utama adalah memimpin secara adil. Bagi orang yang berilmu, amalan paling utama adalah mengamalkan serta mengajarkan ilmunya kepada yang lain dan seterusnya.

Tentang haji, Nabi pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, Nabi menjawab: Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu apa lagi?, Nabi menjawab: Jihad fi sabilillah, lalu apa? Nabi menjawab: Haji mabrur (HR al-Bukhari). Namun dalam kesempatan lain Nabi juga ditanya Aisyah (istrinya): Wahai Rasulullah, kami berpendapat bahwa jihad merupakan sebaik-baik amal, apakah kami tidak turut berjihad, Nabi menjawab: Tidak, tetapi ketahuilah bahwa sebaik-baik jihad adalah haji mabrur (HR al-Bukhari).

Berdasarkan hadis di atas, dapat dipahami bahwa jihad memiliki posisi lebih tinggi dari pada haji yang mabrur. Namun pada kondisi yang berbeda (dalam hal ini untuk kalangan perempuan yang tidak mungkin untuk turut serta berjihad, disebabkan harus ada yang memelihara keluarganya di rumah) maka bagi mereka haji mabrur memiliki nilai lebih dari pada jihad.

Tentang haji mabrur itu sendiri, umumnya masyarakat memahami sebagai haji yang secara formal terlaksana dengan sempurna, namun sebenarnya sebutan haji mabrur adalah haji yang diiringi sifat-sifat baik pasca ibadah haji. Artinya haji mabrur adalah keberlanjutan dari ibadah haji di tanah suci Mekah yang direfleksikan ke dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungannya, sehingga masyarakat di sekitarnya dapat merasakan kebajikan-kebajikan yang ditimbulkannya.

Dalam sebuah riwayat, Nabi pernah ditanya tentang apa itu haji mabrur, Nabi menjawab: orang yang senantiasa memberi makan orang yang membutuhkan makan serta menebarkan salam atau kedamaian (HR Ahmad). Dari riwayat ini nampak sekali definisi haji mabrur harus dapat disaksikan wujudnya dalam masyarakat berupa kepedulian pada orang lemah berikut pembicaraan dan perbuatan yang mengarah kepada kedamaian di lingkungannya.

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut di atas, kiranya haji mabrur memang layak menduduki posisi yang tertinggi serta layak mendapatkan balasan surga, sebagaimana hadis Nabi: Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga (HR al-Bukhari).

Persoalannya adalah bagaimana dengan mereka yang tidak mampu menunaikan ibadah haji?. Ada sebuah riwayat, Nabi Saw didatangi orang faqir, dia berkata: ''orang yang berharta memiliki derajat dan kenikmatan melebihi kami, mereka salat sebagaimana kami salat, mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa, tapi mereka berhaji, berumrah, bersedekah sementara kami tidak, Nabi berkata: ''maukah kalian aku tunjukkan amalan yang akan melebihi mereka bila kalian lakukan, yaitu bertasbih, bertahmid dan bertakbir 33 kali seusai salat'' (HR al-Bukhari). Dalam riwayat yang lain Nabi juga pernah menyatakan: ''Umrah di bulan Ramadlan sebanding dengan haji bersamaku'' (HR al-Bukhari dan Muslim) dan beberapa jenis riwayat lainnya yang menunjukkan amalan yang sebanding bagi amalan tertentu, sudah barang tentu suatu amalan tertentu tidak mampu menggantikan amalan lainnya. Nilai sebanding adalah dari kadar pahalanya atau untuk memberikan motivasi kuat bagi manusia untuk mengamalkannya.

Contoh, bahwa seseorang yang ibadah tepat Lailatul Qadr sebanding dengan beribadah 1.000 bulan (sekitar 83 tahun). Bukan berarti ibadah tersebut menggantikan ibadah selama 83 tahun yang berarti setelah mendapat Lailatul Qadr tidak perlu lagi beribadah, sebab umur manusia paling tidak hanya 63 tahun-an. Contoh lain ketika seseorang membaca surat al-Ikhlash 3 kali sebanding dengaan membaca seluruh Alquran, bukan berarti untuk membaca Alquran cukup membaca surat al-Ikhlash itu saja. Melainkan perimbangan tersebut dibangun atas dasar bahwa Alquran berisi 3 panduan pokok, yaitu ketauhidan (aqidah), ibadah serta muamalah. Adapun isi surat al-Ikhlash adalah mengenai ketauhidan yang berarti 1/3 dari isi Alquran. Jadi membacanya 3 kali berarti pahalanya sama dengan membaca seluruh Alquran.

Berdasarkan uraian dan contoh di atas, kita perlu melihat perimbangan itu sebagai alternatif terakhir. Bila Anda tidak mampu haji, tetapkan niat Anda untuk berhaji, namun laksanakan pula ibadah-ibadah lain secara baik, Insya Allah Anda akan dicatat nilainya sebanding dengan mereka yang berhaji. Selain itu jadikanlah perimbangan-perimbangan pahala yang dikemukakan Alquran maupun hadis sebagai bentuk stimulan atau motifasi Anda untuk tetap beramal. Wallahu a'lam bi al-shawab.(35)


Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) dan Lembkota Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 70124706. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf"


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA