logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 RAGAM
Line

CDFI, Pendeteksi Kelainan Hati

TEKNOLOGI USG kini ada yang disebut sebagai ''triplex sonography''. Yakni Color Doppler Flow Imaging (CDFI), suatu kombinasi analisa Dopler dan ''real time US'' standar yang diberi kode dengan warna.

Tekonologi tersebut membuat peranan USG menjadi luas dalam mendeteksi dan mendiagnosis kelainan-kelainan di hati. Alat CDFI ini telah tersedia di RSUD Tugurejo Semarang dan siap memberikan pelayanan kepada pasien yang memerlukannya. Saat ini Rumah Sakit tersebut sedang melakukan penelitian untuk ukuran/besarnya hati (hepar) dengan besarnya velositas vena porta khususnya pada kasus perlemakan hati.

Peralatan tersebut akan mengurangi ketidakpastian diagnosis serta memperpendek waktu penegakkan diagnosis dan meningkatkan keyakinan akan suatu diagnosis berbagai macam kelainan di hati (hepar). Termasuk untuk mengetahui ada tidaknya aliran, arah aliran, sifat aliran dan resistensi aliran. Sehingga akan mengurangi biaya pemeriksaan yang selama ini cukup menjadi masalah negara berkembang.

Berbagai penelitian telah melaporkan akan kemampuannya mendeteksi stenosis atau trombosis pada pembuluh darah di tubuh manusia. Melalui kalkulasi ''pulsatility index'' (PI) dan ''resistensi index'' (Rl), CDFI dapat membantu menentukan keadaan perfusi (aliran darah) suatu organ tubuh, misalnya ginjal, khususnya pada hipertensi yang resisten terhadap obat hipertensi dan pascatransplantasi ginjal.

Pada kelainan-kelainan hepar kronik yang berat alat deteksi itu dapat memastikan adanya aliran balik darah porta atau adanya penurunan aliran darah porta ke hati (hepar). Juga dapat melihat ada tidaknya varises atau membantu menentukan patensi suatu pintasan porto-sistemik. Masih banyak penelitian-penelitian yang berjalan dalam usaha menilai vaskularisasi pada tumor hepar yang tentunya sangat berguna dalam membedakan tumor hati (hepar) jinak atau ganas.

Pada usaha tindak lanjut penderita dengan keganasan di hati (hepar) yang menjalani pengobatan embolisasi, CDFI dapat berperan untuk melihat apakah tindakan embolisasi itu cukup berhasil atau tidak. Demikian juga pada saat akan dimulainya tindakan penyuntikan etanol maka dapat dilihat dengan lebih pasti di daerah mana etanol tersebut akan disuntikkan. Di masa mendatang diharapkan dapat lebih berperan dalam mengikuti keberhasilan tindakan embolisasi maupun tindakan penyuntikan dengan etanol pada kasus-kasus hepatoma (tumor di hati/hepar), dengan melihat adanya pertumbuhan vaskuler (pembuluh darah) baru.

Dengan menggunakan teknologi baru tersebut akan dicapai nilai akurasi diagnostik yang lebih tinggi dalam membedakan pelebaran suatu cabang duktus biliaris intrahepatis (saluran empedu didalam hati) dari gambaran vaskuler. Sehingga akan mengurangi negatif palsu dan positif palsu diagnosis kelainan bilier.

Sirosis Hati

Pada penyakit hepar kronik seperti sirosis hati (hati yang mengecil dan mengeras) maka akan terjadi penurunan aliran darah porta ke hepar yang dapat dikenali dengan CDFI. Hal ini akan diimbangi oleh peningkatan aliran darah arteri hepatika yang berkelok-kelok dan melebar serta bervelositas tinggi. Juga penyempitan cabang-cabang vena hepatika dan perubahan bentuk gelombang Dopplernya dapat dengan jelas terlihat pada alat deteksi itu.

Gambaran USG pada sirosis hepatis telah banyak dilaporkan orang, jika gambaran ini dibandingkan dengan hasil pemeriksaan histologis maka nilai akurasi diagnosis USG tersebut mencapai 85-95%. Meskipun gambaran USG sirosis hepatis kadang-kadang sulit dibedakan dengan gambaran fatty liver stadium lanjut atau gambaran suatu hepatitis kronik aktif, tetapi dengan mencari tanda-tanda penyerta lainnya yang biasa dijumpai pada sirosis hepatis maka pada umumnya diagnosisnya dapat ditegakkan dengan pasti.

Keadaan penyerta yang sering dijumpai pada sirosis hepatis adalah adanya asites (cairan didalam rongga perut), splenomegali (limpa membesar), dan terjadinya kolateral portositemik pada keadaan hipertensi portal yang selalu mendapat perhatian dari klinisi. Karena keadaan ini sering menyebabkan suatu perdarahan gastro-intestinal (perdarahan saluran cerna) yang sering menyebabkan peningkatan angka kematian.

Kolateral

Dalam laporan pendahuluan akan dibicarakan mengenai peranan CDFI pada penilaian sistem vaskular yang sering mengalami perubahan pada keadaan hipertensi portal oleh karena sirosis hepatis. Sehingga pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal atas atau pada pasien dengan ikterus (mata dan kulit berwarna kuning) yang tidak jelas dan asites, maka deteksi kolateral portosistemik merupakan penemuan yang berguna bagi para klinisi.

Menurut beberapa peneliti terjadinya kolateral splenorenal atau paraumbilikal akan mengurangi risiko terjadinya perdarahan varises esophagus, sehingga deteksi kolateral-kolateral tersebut agaknya akan mengubah penanganan penderita. Jika dijumpai pelebaran Vena paraumbilikalis maka untuk sebagian besar kasus akan dijumpai kolateral peritoneal superficial.

Hal ini sering sulit dideteksi secara USG konvensional sedangkan dengan CDFI dengan mudah dapat dideteksi adanya kolateral tersebut. Kiranya bagi klinisi hal ini akan merupakan informasi berguna terutama jika akan dilakukan pemeriksaan peritoneoskopi atau laparatomi. Sehingga dapat dihindari terjadinya trauma pada kolateral tersebut dan akan mengurangi risiko perdarahan.

Rekanalisasi Vena Umbikalis

Dengan CDFI dapat dengan lebih jelas dideteksi adanya rekanalisasi vena umbilikalis yang terletak didalam ligamentum teres hepatis. Gabungan pengukuran diameter vena umbilikalis dan velositas alian vena tersebut akan lebih meningkatkan sensitivitas akan adanya hipertensi portal. Juga dengan mudah dapat mendeteksi aliran hepatopetal atau hepatofugal. Pada sebagian besar kasus jika dijumpai adanya aliran hepatofugal maka akan dijumpai aliran kolateral-kolateral yang spesifik.

Peneliti Ralls melaporkan insiden aliran hepatofugal pada cabang utama vena porta lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan cabang kanan atau kiri vena porta. Namun jika dijumpai aliran hepatofugal pada cabang utama vena porta maka aliran darah tersebut umumnya didapat dari arteri hepatica melalui pintasan arterioportal.

Walaupun sebagian peneliti merasa angiografi tetap merupakan ''gold standard'' untuk menilai keadaan vaskuler pada hipertensi portal tetapi harus diingat prosedur ini merupakan merupakan prosedur invasive. Terlebih lagi tindakan ini memerlukan penyuntikan zat kontras yang tentu sedikit banyak akan menganggu hemodinamika aliran darah.(Dr Jacobus Albert SpPD/Unit Endoskopi Saluran Cerna RSUD Tugurejo Semarang-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA