| Senin, 17 Mei 2004 | PANTURA |
Kaus Tetoon, Mengutamakan Karakter KartunSIANG itu, pesawat telepon Kantor Tegal Cartoon (Teton), Jl Imam Bonjol No 3 Kota Tegal, terus berdering. Bunyi telepon tersebut memecah kesibukan para kartunis yang sedang berkreasi untuk memproduksi gambar-gambar kartun dan animasi. Ternyata, telepon itu dari salah seorang pejabat yang memesan kaus sekitar 50 potong. ''Ya, tulisannya apa Pak?'' tanya salah seorang penerima telepon. Pejabat tersebut kemudian memesan agar dibuatkan tulisan yang berbunyi ''wong bebas'' lengkap dengan karikaturnya. Dalam jangka waktu tiga hari, kaus yang dipesan pejabat itu sudah jadi. Itulah gambaran sedikit tentang gebrakan awak Tetoon yang kini sedang gencar membikin kaus. Dan, jangan heran jika beberapa kalangan seperti akitivis LSM, mahasiswa, pengusaha, pejabat, dan wartawan di wilayah Tegal sedang merebak pemakaian kaus produk Tetoon. Kartun dan tulisan yang ditampilkan beraneka macam. Misal, slogan Tegal Keminclong Moncer Kotane, Wong Bebas, Anak Jalanan, Kancane Capres, dan Hidup untuk Brebes. Lantas, pertanyaan yang muncul kemudian apa hubungan produksi kaus dengan keahlian para kartunis itu? Apakah Tetoon sekarang berubah arah dalam berkreasi dari animasi menjadi produsen kaus? Wakil Pimpinan Tetoon, Wida Damayanti menuturkan, orientasi pembuatan kaus tersebut tidak melenceng jauh dari misi Tetoon yang berupaya menampilkan kreasi para kartunis. Dia mengatakan, produksi animasi tetap berjalan sedangkan pembuatan kaus merupakan wahana pencurahan daya kreativitas. Konkretnya? Dia mengutarakan, pihaknya ingin mencari terobosan baru dalam berkarya. Kaus hanya sebuah mediasi, sedangkan karya-karya kartun tetap ditonjolkan. ''Jika di Yogyakarta ada dagadu dan Joger Bali, kita menampilkan khas lain. Ciri khas itu adalah kartun, sedangkan mereka kebanyakan mengutamakan bahasa tulisan,'' jawabnya. Gandeng Perusahaan Konveksi Terobosan yang dilakukan awak Tetoon tersebut ternyata juga disambut baik masyarakat Tegal, Slawi, dan Brebes. Dalam momen seperti sekarang ini, di mana situasi politik sedang menghangat seperti kampanye pemilu, maka pesanan kaus pun terus berdatangan. Dia mengaku sejak menerima pesanan kaus sekitar dua bulan lalu, omzet penjualan 150 potong/hari dengan harga rata-rata Rp 30.000. Guna memudahkan proses produksi, pihaknya telah menggandeng salah satu perusahaan konveksi. ''Untuk bahan baku kaus kita mengambil dari salah satu konveksi dalam bentuk polosan, lantas didesain sesuai dengan pesanan.'' Kendati demikian, dia menekankan produk yang dihasilkan tetap mengedepankan karikatur. Sebab, dari karikatur itulah kaus yang diproduksi Tetoon akan membedakan dari produksi kaus pada umumnya. Dari latar belakang pemikiran tersebut, kaus produk Tetoon akan memiliki karakter yang berbeda dari produk lain. ''Kami mencari celah yang berbeda. Jika dagadu menonjolkan bahasa tulisan, kami menampilkan kartun kendati bahasa tulisan itu tetap melekat,'' paparnya. Ketika ditanya mengenai cara penjualan, dia mengakui hingga kini belum mengarah ke pasaran. Sejauh ini, pihaknya baru mengandalkan order dari relasi-relasi. Untuk mengarah ke profit pasar umum, strategi yang digunakan untuk sementara hanya mengikuti pameran-pameran. ''Untuk sementara kita baru tahap promosi dulu. Sekali lagi, kita tidak murni sekadar bisnis kaus semata namun membawa misi kreativitas kartunis Tegal agar dikenal masyarakat luas,'' jelasnya. (Dwi Ariadi-74s) |