| Senin, 17 Mei 2004 | PANTURA |
" Sudah 28 Ha Lahan Lenyap"ABRASI yang mengancam warga Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan ternyata sudah terjadi sejak lama. Bahkan tidak sedikit warga yang menjadi korban sapuan air laut. Selain sudah menghanyutkan tiga rumah, abrasi yang mulai dirasakan warga sekitar tahun 1982 itu menurut penuturan Kepala Desa Semut, Supari, juga telah menelan tanah milik warga. ''Ada sekitar 20 ha lebih tanah milik warga yang sudah bersertifikat lenyap menjadi lautan,'' paparnya. Selain menelan rumah dan tanah bersertifikat, lahan perkebunan melati yang banyak terdapat di Desa Semut juga banyak yang sudah menjadi lautan. ''Makanya, masyarakat di sekitar pantai benar-benar waswas ketika air laut pasang,'' tandasnya. Pantai di Desa Semut yang berdekatan dengan rumah warga itu panjangnya sekitar 1 km. Setiap tahun, lanjut Supari, lebar pantai bertambah 10 m dan semakin mendekati permukiman. Pembangunan penahan gelobang di sekitar pantai Wonokerto, kata dia, sangat diperlukan. Sebab jika tidak segera dibangun, sedikit demi sedikit lebar pantai akan terus bertambah sehingga abrasi sewaktu-waktu bisa menyerang rumah warga. Usulan untuk membuat pagar hidup yaitu dengan menanam tanaman bakau pernah dilakukan warga. Namun ternyata hal itu tidak tahan lama karena dalam waktu sekejap, tanaman tersebut sudah hilang terbawa air laut. ''Tanaman bakau yang digunakan untuk menahan ombak ternyata tidak ampuh, pagi ditanam malamnya sudah hilang disapu ombak,'' tegasnya.' Ancaman abrasi di wilayahnya, jelas Supari, harus diperhatikan dengan serius oleh Pemkab. Sebab jika tidak ditangani dengan maksimal akan bisa mengancam keselamatan warga. ''Kami berharap Pemkab cepat tanggap terhadap masalah ini,'' tegasnya. (Muhammad Burhan-20n) |