| Senin, 17 Mei 2004 | OLAHRAGA |
China Kawinkan Piala Thomas dan UberJAKARTA- China yang memang diunggulkan di tempat teratas, akhirnya memenangi partai final Piala Thomas setelah mengalahkan Denmark 3-1, semalam. Sukses itu menjadikan China kini mengawinkan Piala Thomas dan Uber. Piala Uber direbut Sabtu malam, lewat Gong Ruina dkk. Prestasi ini menyamai Indonesia yang mengoleksi piala beregu putra dan putri pada 1994 dan 1996. Partai itu adalah final ketujuh bagi kedua negara. Bedanya, Denmark sudah mengikuti kejuaraan ini sejak pertama digelar pada 1949, sementara China baru mulai terjun pada 1982. Selain itu, Denmark belum pernah memenangi kejuaraan ini, sementara lawannya telah meraih gelar sebanyak empat kali. Keduanya juga mendapat dukungan yang relatif seimbang dari para penonton. Dibanding partai final Piala Uber yang hanya disakiskan ratusan orang, pertandingan pamungkas Piala Thomas disaksikan 2. 500 penonton. Suporter Denmark rata-rata berada di kelas I dan II. Mereka antara lain dilengkapi bendera-bendera kertas dan spanduk bertuliskan, ''Go Danmark''. Para suporter China kebanyakan duduk di kelas VIP. Tak sedikit di antara mereka yang memberi tiket terusan VIP seharga Rp 750 ribu. Dalam memberikan dukungan, perlengkapan mereka relatif beragam. Selain bendera dari kain berukuran relatif besar, juga spanduk-spanduk dorongan berhuruf China dibentangkan. Bahkan di dinding pembatas ruang VVIP, terpasang rangkaian tulisan ''I Love China'' dengan warna merah berlatar belakang putih. Para pemain China masuk ke lapangan dengan ambisi besar untuk membuat sejarah spektakuler. Dengan keberhasilan tim putri mempertahankan Piala Uber, maka kinilah saatnya membawa pulang Piala Thomas, untuk disandingkan tidak hanya dengan Piala Uber, tetapi juga dengan lambang supremasi beregu campuran, Piala Sudirman yang telah dipertahankannya di Eindhoven tahun lalu. Bao Chunlai Harapan itu dibuka dengan keberhasilan Lin Dan menaklukkan Peter Gade Christensen dalam dua set langsung 15-8, 15-13. Pertarungan antara ''loncatan harimau'' dengan ''mesin disel'' ini berjalan menarik. Denmark menyamakan kedudukan, melalui pasangan terbaik dunia saat ini, Laars Paaske/Jonas Rasmusssen yang menundukkan Fu Haifeng/Cai Yun. Didukung sebagian besar penonton, mereka memenangi pertarungan mental pada set pertama. Berkali-kali pindah bola dalam kedudukan game point saat 14 maupun 16, akhirnya set ini diselesaikannya dengan 17-16. Pertarungan ketat terjadi pada partai ketiga, saat si kidal Bao Chulai menghadapi juara All England dan juara Eropa tahun ini, Kenneth Jonassen. sebelumnya, keduanya belum pernah bertemu di kejuaraan apapun. Dalam 22 menit, Jonassen yang berusia 30 tahun, unggul 15-12 di set pertama. Pada set kedua, dia menyerah 15-17, juga dalam 22 menit. Pada set ketiga, smes-smes ke arah badan menjadi kunci permainan Bao yang menang 15-12. Ganda kedua Denmark, Jens Eriksen/Martin Lundgaard Hasen yang turun menghadapi Sang Yang/Zheng Bo gagal memperpanjang nafas timnya. Mereka menyerah 13-15 pada set pertama, sekalipun unggul dulu 13-7, dalam waktu 36 menit. Pada set kedua, mereka tumbang 15-8 dalam 18 menit. (tok,D3-57) |