logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 SEMARANG
Line

Mengambil Minyak di Bawah Terik Matahari

MUSIM kemarau merupakan awal keceriaan bagi Suparmin (52), warga Bendoharjo, Gabus, Grobogan. Sebab, lelaki berperawakan gempal itu penghasilannya sangat bergantung pada sinar matahari. Bila matahari urung bersinar atau bahkan turun hujan, tentu dia harus mencari pekerjaan lain guna mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Lelaki berputra tiga itu sejak 1971 masih mengambil minyak mentah yang keluar dari salah satu sumur peninggalan Belanda. Letaknya di lahan PT Perhutani, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Diperkirakan 33 dari 45 sumur peninggalan Belanda di Desa Bendoharjo itu mengandung minyak. Tak hanya itu, dua di antaranya dinilai memiliki nilai ekonomis, yaitu sumur nomor 39 dan 40. "Saya tak tahu ini sumur nomor berapa. Pokoknya saya tinggal ambil minyak mentah dari sumur itu," kata Suparmin.

Sumur yang tak begitu besar itu pernah ditutup, yaitu ketika Jepang masuk ke Indonesia.

Namun, karena tekanan air dari dalam begitu besar, akhirnya meluap membentuk sebuah danau kecil. Air bercampur minyak mentah itu pun menyembul keluar. Karena diterpa panas matahari, akhirnya minyak mentah itu berubah warna menjadi hitam kecokelatan.

Dia mengambil campuran minyak mentah dengan air itu menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Sedikit demi sedikit, cairan berwarna cokelat pekat itu dikumpulkan ke dalam kotak terbuat dari kayu ala kardarnya yang diisi dengan tanah liat.

Kemudian campuran antara minyak mentah, air, dan tanah liat itu diaduk-aduk hingga keluar minyak mentahnya. Dengan cara sederhana itu, setiap hari dirinya mampu mengumpulkan minyak mentah mencapai 75-80 liter.

Dia menjual minyak itu ke Cepu atau perorangan. Berjualan minyak mentah, diakuinya sangat mudah sebab banyak orang yang mencarinya.

Kepala Desa Bendoharjo, Gabus, Budi Yuwono mengatakan, beberapa warga sekitar mengambil minyak mentah itu untuk mengusir nyamuk.

"Dulu pernah dikelola LKMD, sebab minyak yang keluar cukup banyak, tetapi sekarang tidak lagi. Desa tidak mengurusi, karena sudah dimanfaatkan warga," jelasnya.

Sebenarnya PT Pertamina, pernah melakukan pengeboran di Desa Bendoharjo, Gabus. Namun, hingga kini belum diketahui hasilnya. "Bahkan PT Pertamina baru saja melakukan pengeboran di petak 151 dan 150," ungkapnya. (Aris Mulyawan-64k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA