logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 SEMARANG
Line

Dikenal Pendiam dan Suka Ziarah

SIANG itu Ny Patriyah terlihat sangat letih. Dia duduk di kursi panjang dengan mata yang masih tampak sembap. ''Saya baru saja pulang dari Demak. Saya memberi tahu teman Bambang yang ada di Terminal Demak bahwa Bambang ditangkap polisi,'' katanya.

Bambang Sambodo adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik Bambang adalah Priyadi (25) dan Pujiati (19). Karena hidup pas-pasan, Ny Patriyah tak bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai pendidikan lanjutan. Bambang hanya lulusan SD. Demikian pula Priyadi dan Pujiyati.

''Sejak berpisah dari suami, saya berusaha hidup mandiri,'' tutur perempuan bertubuh tambun itu. Dia keberatan menyebutkan nama suaminya yang kini tinggal di Kampung Kebonharjo itu.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, dia bekerja sebagai pedagang barang-barang rongsokan. Usaha kecil-kecilan itu dirasa cukup berjasa untuk mempertahankan dapurnya agar tetap mengepul. Adapun Bambang bekerja serabutan dan Priyadi sebagai tukang becak.

Sejak beberapa bulan lalu, Priyadi beralih usaha menjadi penjual bahan bakar mesin truk pengganti solar (populer dengan sebutan irek) di tepi Jalan Arteri Yos Sudarso sekitar Tambaklorok.

Patriyah mengaku sangat tahu tabiat Bambang. Dia mengenal laki-laki itu pendiam. Bambang juga suka berziarah di makam para wali dan tempat lain yang dianggap bertuah. Di samping ke makam para wali, dia kerap menziarahi Gunung Ketawu, Pucuk Songolikur di Kabupaten Kudus.

''Namun, dia tidak pernah menyembuhkan orang sakit. Dia punya guru. Kalau gurunya ingin sowan di rumah seorang kiai atau berziarah, dia selalu ikut.''

Bambang dikaruniai seorang putri, Zulaikah (7) dari istri pertamanya asal Mranggen, Demak. Sejak anaknya berusia delapan bulan, istrinya memilih berpisah dan pulang ke Mranggen. Tidak jelas apa sebabnya. Dia mengaku tidak mengetahui penyebab rumah tangga anak sulungnya bubar.

Prihatin

Kasus dugaan penculikan yang menimpa Bambang membuat segenap keluarga Patriyah prihatin.

Bahkan, banyak yang tak habis mengerti, mengapa perkenalan Bambang dengan Munari, warga Margoayu, Karangawen, Demak berujung petaka.

''Mungkin saja ada upaya (Munari-Red) untuk menjelekkan nama anak saya (Bambang Sambodo-Red),'' ujarnya, pasrah.

Perkenalan Munari dengan Bambang terjadi ketika mereka sama-sama berziarah ke Gunung Ketawu, beberapa bulan lalu. Kebetulan ketika Munari berziarah, anak keduanya, Ria Dwiningsih ditinggal di bawah. Di lokasi itulah Bambang mengajak anak kelas IV SD Margoayu 2 Karangawen itu berbincang-bincang. (Karyadi-89k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA