logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 SEMARANG
Line

Tangani Orang Gila seperti Rawat Bayi

SEMARANG- Sebagian besar orang ketika melihat orang gila akan segera menjauh atau malah mengusirnya. Namun para pekerja di Panti Margowidodo, sebuah panti untuk pembinaan orang jompo, gelandangan, dan orang gila, sungguh beda.

Paling tidak ada 30 pekerja di panti milik Pemprov Jateng yang belamat di Jl Tugu Semarang itu yang serasa tak jemu merawat dan membina orang gila, gelandangan, dan orang jompo. Untuk menangani orang macam itu, mereka menerapkan layanan terpadu.

''Dikatakan terpadu, karena kami menerapkan konsep mendidik bayi selama tiga bulan,'' kata Nur Kholis, salah seorang pengurus panti.

Dua tenaga kerja khusus memandikan mereka. Tenaga lain bertugas lain, seperti membersihkan ruang singgah orang gila serta membuat dan memelihara taman.

Dia juga mengatakan, orang gila yang baru masuk diperlakukan seperti bayi baru lahir. ''Bayi-bayi'' itu pun dimandikan dengan sabun agar tidak terlihat kotor dan bau. Kemudian mereka dibimbing agar bisa memakai baju dengan benar.

Tiga minggu setelah itu orang gila diperkirakan terbiasa mandi dan memakai baju sendiri. Selanjutnya perawatan ditingkatkan dengan pendidikan layaknya anak sekolah. Mereka diajak beraktivitas, bahkan latihan kerja.

''Praktik kerja di sini antara lain membuat paving block dan keset,'' ujarnya sembari menunjukkan orang gila yang sedang membuat paving.

Sebenarnya, cara seperti itu sudah berlangsung lama, hanya belum terkonsep secara matang. Resminya baru diterapkan sejak 11 Mei 2004. Latihan keterampilan dimaksudkan agar mereka mandiri. Setiap minggu kesehatan selalu dipantau oleh dokter. Mereka diberi obat saraf dan terapi medis oleh dokter jiwa.

Nur Kholis menuturkan, pihaknya mengalami keterbatasan dana. Maklumlah, bantuan dari APBD Jateng hanya Rp 1,4 juta/bulan, sementara kebutuhan untuk obat per pasien Rp 2.250/ hari, sehingga dana itu hanya cukup untuk mengobati 25 orang.

''Padahal orang gila, gelandangan, dan jompo di sini 64 orang. Khusus orang gila 25 orang.''

Orang gila yang telah mendapat perawatan terpadu tiga bulan akan didistribusikan ke panti serupa di kabupaten/kota se-Jateng dengan prioritas sesuai dengan asal mereka.

''Cukup sulit memang mengetahui alamatnya, tetapi kadang mereka menyebutkan alamat dengan benar. Kalau ditanya alamat dan menjawab, pasti kami teruskan dengan mengirimkan surat pemberitahuan kepada keluarganya.''

Beberapa bulan lalu, imbuhnya, ada orang gila yang lama dicari keluarganya. Mereka mengira orang itu diculik sehingga lapor polisi. ''Mereka sangat berterima kasih pada kami.'' (H1,G17-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA