| Senin, 17 Mei 2004 | INTERNASIONAL |
MA Israel Setujui Aksi Gusur Rumah Pengungsi PalestinaJERUSALEM - Mahkamah Agung Israel, Minggu kemarin, mengizinkan tentara membongkar rumah-rumah pengungsi Palestina di dekat koridor yang dikuasai Israel di perbatasan Gaza-Mesir. Menlu AS Colin Powell mengatakan, AS menentang pembongkaran rumah-rumah di kamp pengungsi Rafah itu dan menyerukan diakhirinya gelombang kekerasan di kawasan tersebut. Sekitar 120.000 orang Israel berpawai di Tel Aviv mendukung rencana PM Ariel Sharon untuk mengosongkan Gaza, setelah kelompok militan di daerah itu menewaskan 13 tentara pekan ini. Serangan militan tersebut merupakan pukulan terparah terhadap pasukan terkuat di Timur Tengah dalam dua tahun. MA, yang menolak memperpanjang izin tinggal yang diminta kelompok hak Palestina, menyetujui penghancuran rumah-rumah di zona aman "Philadelphi", dengan menyatakan militer Israel boleh menghancurkan rumah-rumah itu untuk tujuan operasional atau melindungi tentara. Sumber-smber politik Israel menyebutkan, ratusan rumah di kamp pengungsi Rafah boleh diratakan dengan tanah untuk memperluas daerah itu dan membuatnya lebih aman untuk dikontrol. Kamp Rafah terletak di pinggir koridor tempat AD Israel kehilangan tujuh personelnya dari 13 korban tewas dalam kekerasan. Ratakan 80 Bangunan Para petugas bantuan PBB memperkirakan, buldoser lapis baja Israel meratakan dengan tanah lebih dari 80 bangunan di Rafah dalam beberapa hari terakhir, sehingga menyebabkan sekitar 1.100 orang Palestina kehilangan tempat tinggal. AD Israel menyatakan, pihaknya menghancurkan bangunan-bangunan yang digunakan oleh orang-orang bersenjata. "Kami tidak akan mengizinkan terorisme mencapai kemampuan yang dicita-citakan, yang akan mengancam jantung negara itu setelah kami melepaskan diri dari Gaza," kata Sharon pada kabinetnya pada sidang mingguan kemarin. Powell mengatakan pada konferensi pers di Yordania, "Kami tahu bahwa Israel punya hak untuk membela diri, namun kami menentang tindakan seperti yang mereka lakukan dengan menghancurkan rumah-rumah orang Palestina di Rafah. Kami pikir tindakan itu tidak produktif." Powell juga mengecam Yasser Arafat karena menyerukan orang-orang Palestina agar "melakukan teror terhadap musuh". Menlu AS itu mengatakan, Presiden Palestina "makin mempersulit" langkah untuk melanjutkan proses perdamaian. Sharon bertekad melanjutkan pengosongan Gaza meski Partai Likud sayap kanan pimpinannya menolak rencana tersebut dalam referendum 2 Mei lalu. Para penentang rencana itu menyatakan pengosongan Gaza itu akan "memberi penghargaan kepada teror" setelah lebih dari tiga tahun konflik. Sedikit Perubahan Sebuah sumber senior di kantor Sharon menyebutkan, PM Sharon bermaksud menyampaikan usulan penarikan Gaza dengan "sedikit perubahan" pada kabinetnya. Seorang pembantu Sharon mengatakan, rencana yang diubah itu akan siap dalam dua sampai tiga pekan. Rencana asli, yang didukung Presiden AS George W Bush, menyerukan pengosongan seluruh permukiman Yahudi di Jalur Gaza. Empat dari 120 permukiman di Tepi Barat juga akan dikosongkan, namun Sharon menyatakan akan mempertahankan blok permukiman utama di wilayah tersebut. Dalam satu putaran politik bersejarah Sabtu lalu, "kamp perdamaian" yang dinyatakan Israel memadati alun-alun Tel Aviv tempat pejuang yang beralih menjadi pendukung perdamaian, Yitzhak Rabin, dibunuh pada 1995. Mereka mendukung Sharon dan proposal Gaza yang diusulkannya. "Kami akan mengucapkan selamat tinggal pada Gaza," kata Shimon Peres, ketua Partai Buruh yang oposisi dan mantan PM yang menyaksikan kekerasan secara efektif mengubur perjanjian-perjanjian damai sementara. Di Gaza, sekitar 7.500 orang Yahudi tinggal di permukiman yang sulit dipertahankan di tengah 1,3 juta orang Palestina yang kebanyakan miskin. Beberapa orang yang kebetulan lewat mengalami luka-luka dalam serangan rudal helikopter di Gaza kemarin pagi terhadap kantor yang berkaitan dengan kelompok Fatah pimpinan Arafat dan kantor lain milik harian pro-Hamas, kata saksi mata.(rtr-niek-46) |