logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 INTERNASIONAL
Line

Karbala Masih Membara

KARBALA - Tentara AS dan para pejuang Irak yang loyal pada ulama Syiah Moqtada al-Sadr, bentrok senjata sengit lagi di kota suci Karbala, Minggu kemarin.

Sebanyak 10 tank Amerika mengambil posisi di pusat kota, dekat dengan tempat paling suci bagi kaum Syiah. Mereka membalas serangan para pejuang milisi Tentara Mahdi pimpinan Sadr, yang menembakkan mortar dan granat yang dikendalikan roket. Helikopter-helikopter AS meraung-raung di atasnya.

Direktur RS utama Karbala, Saleh Hisnawi, mengatakan kepada Reuters bahwa seorang pejuang tewas dan tiga lainnya terluka selama pertempuran yang meletus sekitar pukul 07.00 waktu setempat (10.00 WIB) itu.

Di kota suci Najaf, sekitar 50 kilometer di selatan Karbala, situasinya relatif tenang. Pasukan pimpinan AS berusaha mengusir para pendukung Sadr dari beberapa kota di seluruh wilayah Syiah di Irak selatan selama dua pekan terakhir.

Jauh di selatan, di Nassiriyah, tentara Italia terlibat bentrok singkat dengan milisi Tentara Mahdi, Sabtu malam, kata penduduk kota itu. Satu konvoi truk sipil diserang di dekat kota itu dan sebuah truk hancur, tambah mereka. Sopir truk tersebut terluka.

Para komandan AS mengatakan mereka terpaksa, terutama di Karbala dan sekitar basis utama Sadr di Najaf, melakukan upaya-upaya untuk menghindari rusaknya tempat-tempat suci itu. Di tempat-tempat tersebut para pejuang Syiah bersembunyi.

Namun, Jumat lalu, tank-tank menyerang dekat tempat suci itu di makam kuno Najaf dan bentrokan terjadi di dekat tempat-tempat suci utama Karbala. Di Teheran, pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khomenei kemarin mengecam keras ulah serdadu AS merusak tempat-tempatsuci Suiah di Karbala.

Minta Maaf

Sementara itu dari Pantai Laut Mati, Yordania, Menlu AS Colin Powell kemarin minta maaf pada para tawanan Irak yang disiksa oleh tentara AS. Permintaan maaf itu disampaikan sehari setelah dia menyampaikan pidato yang menjanjikan keadilan namun membuat banyak orang Arab marah dan curiga.

Powell juga mengatakan tentara AS akan tetap berada di Irak "selama beberapa waktu" untuk memberikan keamanan bagi pemerintahan sementara Irak dan menjamin pemilihan yang bebas.

Presiden AS George W Bush pada 6 Mei lalu mengatakan, dia "menyesal atas perlakuan memalukan" terhadap tawanan Irak yang ditelanjangi, ditumpuk satu sama lain, dipaksa melakukan hubungan seks, disiksa oleh sipir Amerika, dan diambil gambarnya di penjara Abu Ghraib.

"Presiden menyampaikan permintaan maaf atas nama bangsa. (Saya akan) memperkuat permintaan maaf itu. Kami sangat menyesal atas apa yang terjadi di Abu Ghraib. Kami minta maaf kepada mereka yang disiksa dengan cara yang mengerikan itu," kata Powell kepada wartawan.

Powell berbicara di Yordania sehari setelah dia menyampaikan pidato yang dimaksudkan untuk mengurangi kemarahan Dunia Arab atas penyiksaan tersebut namun dia tidak menyampaikan permintaan maaf secara eksplisit.

Para pengusaha dan politikus Arab, yang mendengar pidato Sabtu lalu di pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Yordania, mempertanyakan ketulusannya dan meragukan janjinya bahwa AS akan menyelidiki dan mengadili mereka yang duga melakukan penyiksaan itu.

Pemerintahan Sementara

Kredibilitas AS di Dunia Arab dirusak oleh penyiksaan tawanan di Irak itu. "Kami sedang melakukan sesuatu untuk menghadapi apa yang Anda sebut frustrasi dalam Dunia Arab," jelas Powell pada wartawan. "Semua orang mengatakan kami sebaiknya menyerahkan kedaulatan kepada rakyat Irak sehingga tidak seperti pendudukan lagi. Memang itulah yang sebenarnya sedang kami lakukan dan apa yang kami rencanakan pada akhir Juni nanti," tambahnya.

Dengan bantuan PBB, AS berharap bisa membentuk pemerintahan sementara di Irak pada 1 Juli mendatang. Pemerintahan tersebut akan punya kedaulatan meski tidak akan mengontrol tentaranya. Para pengecam menyatakan pemerintahan sementara itu hanya akan punya sedikit wewenang untuk memerintah negara berpenduduk 25 juta jiwa itu.

Powell, yang diwawancarai dari Yordania oleh program NBC "Meet the Press", mengatakan dia menduga pemerintahan sementara Irak akan mempertahankan keberadaan pasukan AS setelah penyerahan kekuasaan.

Powell mengatakan AS tidak ingin tinggal "satu hari lebih lama dari yang seharusnya". (rtr-niek-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA