logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 17 Mei 2004 BANYUMAS
Line

Pupuk Urea Pril Menghilang

  • Tersedot untuk Urea Tablet

PURWOKERTO - Menghilangnya pupuk urea di lapangan diduga sebagian dimanfaatkan untuk membuat urea tablet. Akibatnya, urea tabur (pril) yang banyak dicari petani di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya saat ini sulit diperoleh. Kalaupun ada, harganya lumayan tinggi antara Rp 1.300 - Rp 1.400/kg dan hanya dapat diperoleh di pengecer tak resmi.

Urea tablet banyak diminati petani di derah Banyumas bagian selatan, seperti Kecamatan Tambak, Sumpiuh, Kemranjen, Rawalo, dan Jatilawang.

Kepala Sub-Dinas Bina Dagang Disperindagkop Kabupaten Banyumas, Karno M Noh menyinyalir, di Banyumas ada distributor urea yang mendapat delivery order (DO) dari Perwakilan Pusri Daerah (PPD) Semarang dan tidak seluruhnya didistribusikan kepada pengecer untuk dijual kepada petani.

"Ada distributor di wilayah Banyumas ini yang sebagian DO-nya tak didistribusikan ke pengecer, tapi dibuat untuk urea tablet. Mestinya sesuai dengan aturan, hal itu tak dibenarkan. Sebab untuk industri harus menggunakan harga nonsubsidi yakni Rp 1.400/kg, bukan menggunakan pupuk bersubsidi yang harga di pengecer Rp 1.050/kg," jelasnya.

Di Kabupaten Banyumas, kata dia, ada empat industri pembuat urea tablet, yakni Lima Sekawan, Bina Tani, Sumber Tani, dan Jawa Hijau. Kebutuhan untuk membuat urea tablet itu menurut perkiraannya mencapai 40% dari seluruh kebutuhan urea di Kabupa-ten Banyumas. Pada musim tanam ini (April-September) kebutuhan pupuk mencapai sekitar 7.500 ton untuk areal sawah sekitar 33.000 ha.

Dia juga mengatakan, pola distribusi yang berlangsung seperti sekarang ini perlu ditinjau kembali. Sebab dengan pola sekarang, pengawasan terhadap distribusi sulit dipantau. Apalagi ada beberapa distributor yang tidak punya gudang dan perwakilannya di Banyumas. Itu akan sulit dipantau, berapa jumlah pupuk yang telah disalurkan.

"Dalam kenyataannya, hanya beberapa distributor pupuk yang menyampaikan laporannya ke Disperindagkop. Itu pun tidak rutin sehingga distribusi pupuk sulit dipantau," jelasnya.

Permintaan Petani

Salah seorang distributor pupuk urea, Gatot S dari UD Lima Sekawan yang juga termasuk salah satu pembuat urea tablet ketika dihubungi kemarin mengatakan, pihaknya membuat urea tablet karena banyak permintaan dari para petani.

"Banyak petani yang datang meminta urea tablet. Kalau tidak ada permintaan, saya tidak akan membuat urea tablet. Petani yang memakai urea tablet itu jumlahnya masih cukup banyak. Kalau tidak dipenuhi mereka kecewa, bahkan kalau stok belum siap, mereka rela menunggu dan berani bayar dengan harga tinggi," jelas Gatot.

Dia menjelaskan, kalau tidak ada permintaan dari petani, dia juga tidak membuat urea tablet. Untuk membuat urea tablet itu ia mengakui bahan bakunya berasal dari sebagian DO yang ditebusnya dari PPD.

Harga urea tablet memang lebih mahal dibandingkan dengan urea pril. Sebab untuk membuat urea tablet memerlukan proses dan untuk memprosesnya membutuhkan tambahan biaya sehingga harganya lebih tinggi. "Urea tablet saya jual dengan harga Rp 1.300/kg. Tapi kalau sudah di pengecer bisa mencapai Rp 1.500/kg," jelasnya.

Sebagai pembuat urea tablet, tambahnya, dia sebenarnya tak keberatan kalau harus membeli urea dengan harga nonsubsidi asal diperlakukan kepada semua industri seperti dirinya. Namun kalau urea nonsubsidi harganya Rp 1.400/kg, kalau sudah dibuat urea tablet harga dari pabrik paling tidak Rp 1.700/kg. (G23-34n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA