logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Mei 2004 SALA
Line

Harta Bisa Habis untuk Beli Air

WONOGIRI- Kesulitan penduduk memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau, berdampak pada berkurangnya pendapatan masyarakat. Demi air, masyarakat rela menjual harta dan ternak piaraan. Dampaknya, ekonomi rakyat sulit berkembang. Harta mereka pun habis dijual hanya untuk air.

Demikian dikemukakan Bupati H Begug Poernomosidi SH, Kamis, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Drs Mulyadi MM, saat membuka seminar sehari tentang kekeringan dan dampak pencemaran akibat limbah industri se-wilayah Subosukowonosraten (Surakarta, Boyolali, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Klaten).

Seminar diikuti para bupati/wali kota atau utusan dan para pejabat dari instansi terkait dari kabupaten/kota se eks Karesidenan Surakarta.

Begug mengatakan, setiap musim kemarau masyarakat kecil selalu mengalami kekeringan dan kekurangan air baku untuk keperluan rumah tangga.

''Itu tantangan yang harus kita hadapai bersama,'' tandas Bupati.

Dampak kekurangan air pada musim kemarau juga mengakibatkan turunnya derajat kesehatan masyarakat.

''Air yang dikonsumsi masyarakat secara kualitas belum memenuhi standar kesehatan,'' tuturnya.

Ironisnya, ketika datang musim penghujan, limpahan air sering menimbulkan dampak negatif berupa banjir dan tanah longsor yang juga sangat dirasakan oleh rakyat kecil.

Banjir itu akibat lingkungan kurang terpelihara, khususnya daerah aliran sungai di bagian hulu.

Banjir juga berpengaruh negatif terhadap fungsi bendung, waduk, atau embung. Banjir menyebabkan percepatan pendangkalan.(P27-49s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA