| Jumat, 14 Mei 2004 | SALA |
Tolak Capres dari Militer dan OrbaMahasiswa Kembali DemoKOTABARAT- Calon presiden dan wakil presiden dari Orde Baru (Orba) dan militer tampaknya terus ditolak sejumlah mahasiswa di Solo. Sekitar lima puluh mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), kemarin melakukan demonstrasi menentang mereka yang bakal bersaing menjadi RI-1 dan RI-2. Aksi para mahasiswa yang bergerak dari Kotabarat menyusuri Jalan Slamet Riyadi menuju Gladag pada intinya menolak kehadiran neo-Orde Baru dan militer di kancah politik. Menyikapi banyaknya figur lama dalam perebutan kursi RI-1, menurut Koordinator Aksi Aji Kurnia Darmawan, semakin menunjukan di antara mereka merupakan figur militer dan tokoh-tokoh Orde Baru yang ingin berkuasa kembali. "Karena itu, siapa pun capres yang teridentifikasi Orba dan militer akan selalu kami tolak mentah-mentah," papar Aji K Darmawan. Otoriter Jika para rezim penguasa nanti didominasi Orba dan militer, lanjut dia, dikhawatirkan akan kembali sistem otoriter seperti pada masa lalu. Aksi menentang kemunculan kembali figur calon pemimpin dari Orba dan militer itu, sebagai reaksi atas berbagai kasus kekerasan yang terjadi belakangan ini. Para calon presiden yang selalu menghiasi media, menurut Aji K Darmawan, selalu tampil layaknya pahlawan. Mereka mengobral janji-janji busuk agar rakyat terpikat dan memuluskan ambisi mereka. Mencermati berbagai tindak kekerasan yang dilakukan aparat penegak hukum yang belakangan terjadi, KAMMI Kota Solo menuntut dan mendesak agar Jenderal Pol Drs Da'i Bachtiar dipecat sebagai Kapolri. Dalam aksi terpisah, mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengeluarkan pernyataan sikap yang intinya menuntut dituntaskannya kasus Tragedi Trisaksi, 13 Mei 1998 lalu, dan kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya. Pengurus GMNI Solo, Roy Saputro menyatakan, mereka juga menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mewaspadai kembalinya Orde Baru dengan wataknya yang militeristik. (G11-80i) |