logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Mei 2004 PANTURA
Line

"Mbokeee ... Bapane ... Tuluuung ..."

  • Razia WTS dan Gelandangan

PULUHAN petugas gabungan dari Polres Tegal, Satpol PP, Dinas Kesehatan, PMI, PDAM, dan Bagian Sosial Pemkab Tegal melakukan operasi terhadap wanita tuna susila (WTS) dan gelandangan yang kini banyak bertebaran di Slawi, Pangkah, dan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Mereka selain harus jeli bermain kucing-kucingan dengan sasaran operasi, juga harus bisa berbuat tegel (tega) jika menghadapi akting wanita penjaja seks keliling yang akan ditangkap.

Seperti dialami rombongan petugas gabungan saat akan menangkap seorang penjaja seks di Desa Karanggondang, Kecamatan Balapulang, Selasa (11/5) malam lalu. Petugas yang sudah lama mengincar perilaku wanita penjaja seks itu pun langsung pasang aksi.

Namun teori dan praktik di lapangan sering berbeda. Petugas sempat terdiam beberapa saat ketika seorang WTS ditangkap dan menangis sejadi-jadinya. Kakinya mengorek-orek tanah, mungkin pula jika tangan petugas yang menyeret wanita itu dilepaskan, dia akan ngosek di tanah.

Namun, tangan petugas yang lebih kuat tetap mencengkeram dan menariknya ke atas mobil patroli. Wanita itu pun seperti kehilangan akal. Dia terus menangis sejadi-jadinya. Bahkan memanggil bapak dan ibunya agar dia segera dilepaskan dari tangkapan tangan petugas. "Mbokeee ... bapaneee...tuluuung ... aku tuluuung ...," teriak wanita itu.

Terpingkal-Pingkal

Meski membuat petugas terdiam sejenak, ulah si wanita itu bukannya membuat petugas tim operasi gabungan kasihan atau iba melainkan akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.

"Halaah ... maene kaya kuwe. Jawane ben melas. Wis aja macem-macem, hayuh melu nang kantor. (Wah ... pura-pura begitu. Biar terlihat kasihan. Sudah jangan macam-macam, ayo ikut ke kantor)," tegas salah seorang petugas. Wanita itu pun langsung terdiam lantaran "akting"-nya tidak mampu meluluhkan perasaan petugas.

Malam itu, petugas mengawali operasi di Kota Slawi, tepatnya di sekitar pabrik teh Gopek. Tim gabungan tidak mendapatkan sasaran. Ada informasi, operasi itu telah bocor. Petugas hanya mendapatkan tikar-tikar dari koran atau daun pisang yang ditinggalkan begitu saja.

Baru saat di Curug, Kecamatan Pangkah, petugas menangkap satu wanita yang sedang mampir di warung makan remang-remang menunggu pria hidung belang.

Hasil operasi malam itu, enam WTS dan seorang gelandangan dijaring. Mereka dari Desa Jatilaba dan Desa Pakulaut (Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal), Desa Subah (Pekalongan), Desa Larangan (Brebes), dan Desa Kertajati (Majalengka, Jabar). Satu gelandangan yang ditangkap belum diketahui identitasnya.

Sebagai catatan, berjubelnya WTS yang sering mangkal di perempatan Jalan A Yani, Kota Slawi, Kabupaten Tegal dan seringnya mereka melayani seks laki-laki hidung belang di tempat sepi seperti kebun tebu atau lapangan kosong membuat Pemkab Tegal merasa gerah.

Apalagi mencuatnya kisah pembunuhan seorang WTS di kebun tebu, tidak jauh dari tempat mangkal, yang dilakukan oleh seorang pengamen, Minggu (9/5) lalu, seperti kian membuat telingga Satpol PP dan Bagian Sosial dibuat merah.

Itu wajar. Mengingat dua instansi tersebut yang berwenang meng-oprak-oprak soal kemerebakan penjaja seks dan gelandangan selama ini untuk dibina atau dididik keterampilan khusus agar bisa mandiri dan tidak menimbulkan penyakit masyarakat.

Kepala Bagian sosial Kabupaten Tegal Moh Nur Ma'mun SH MHum mengungkapkan, enam orang yang terjaring operasi malam itu dikirim ke Panti Karya Samepto Karti, Desa Comal, Kabupaten Pemalang. Operasi semacam itu akan kembali digelar minimal tiga kali dalam sebulan. Pihaknya juga sedang mengincar alun-alun baru di depan kantor Setda Kabupaten Tegal.(Riyono Toepra-20j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA