logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Mei 2004 PANTURA
Line

Pemkab Perlu Membuat Renstra Pendidikan

BATANG- Sudah saatnya Pemkab Batang membuat regional education planning (REP) atau rencana strategis (renstra) bidang pendidikan. Langkah itu ditempuh dalam rangka membangun karakter bangsa serta peningkatan mutu pendidikan sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Renstra itu dilakukan dengan mengevaluasi semua data kependidikan, menginventarisasi hambatan dan kendala yang dialami selama ini. Untuk itu, Dinas Pendidikan dan instansi terkait hendaknya berkoordinasi mewujudkan kerangka pendidikan yang kuat.

"Sudah mendesak sekali di Kabupaten Batang ini ada renstra pendidikan. Karena dengan pendidikan, sebenarnya kita membahas masalah membebaskan dan mengentaskan," ujar tokoh masyarakat Batang, Romo Haji Yunan Thoha, pada acara lesehan rakyat yang digelar oleh Radio Abirawa. Acara yang diprakrasai forum lesehan rakyat itu dihadiri pejabat di Lingkungan Dinas Pendidikan, LSM, serta beberapa aktivis.

Membebaskan berarti roh pendidikan berisi sebuah semangat membebaskan umat manusia dari kebodohan dan kemiskinan. Adapun mengentaskan, maksudnya mengangkat derajat dan melalui pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan.

"Dengan demikian, pendidikan akan menjadi sarana menciptakan manusia yang terbebas dari kebodohan. Selanjutnya, tidak hanya membebaskan diri seseorang namun juga lingkungan sekitar," ungkap Romo Yunan.

Semakin Terpuruk

Menurut pendapat dia, ada banyak hal yang menjadi problem pendidikan nasional di Indonesia. Dukungan anggaran untuk pendidikaan sangat rendah sekali secara rata-rata tak pernah lebih dari 5%. Bahkan, sejak era demokratisasi dengan alasan krisis ekonomi, anggaran pendidikan semakin terpuruk. Padahal, amandemen UUD 1945 mengamanatkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN.

Dalam hal kurikulum pendidikan nasional, sistem yang dianut sangat sentralistis dan terlalu banyak. Karena itu, dianggap memberatkan peserta didik dan tidak efesien.

Selain itu juga kelemahan kualitas guru dan gaji yang rendah. "Kelemahan kualitas guru itu berdampak pada kelemahan transfer ilmu pengetahuan. Hal ini yang mengakibatkan sekolah menjadi lembaga yang membosankan bagi peserta didik akibat ketidakkreatifan guru dalam kegiatan pembelajaran," ungkap mantan Kepala Kandepdikbud Batang itu.

Namun, dia salut dengan upaya yang telah ditempuh Bupati Bambang Bintoro SE dalam bidang pendidikan yang memberikan beasiswa bagi 10.000 siswa SD/MI dari keluarga duafa sebesar Rp 25.000/bulan dengan anggaran Rp 3 miliar. Namun, ujar Romo, hal itu perlu dikaji ulang karena ternyata Dana Operasional Pendidikan (DOP) hanya Rp 1,03 miliar. "Alangkah bagusnya jika DOP dinaikkan menjadi Rp 3 miliar," tandasnya.

RM Soleh Susetya dari Badan Koordinasi Antar Lembaga Masyarakat mengemukakan, pendidikan nasional sekarang kurang bermutu karena anak dibiasakan untuk menghafal. Tak ada interaksi antara guru dan siswa.

"Terus terang saja, pendidikan sekarang belum siap mutu. Karena itu, harus ada perubahan dalam sistem kegiatan pembelajaran." (ar-20j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA