| Jumat, 14 Mei 2004 | PANTURA |
Banyak yang StresKAJEN- Menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN), banyak siswa yang stres akibat kesulitan mengerjakan soal-soal ujian, khususnya soal-soal ujian SMU yang dibuat pusat, yang meliputi pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Tingkat stres yang dialami berbeda-beda, ada yang selalu murung jika sudah pulang ke rumah, ada pula yang punya kebiasaan baru, yakni marah-marah tanpa sebab yang jelas. Seperti diungkapkan Ny Susanti yang anaknya sekolah di SMU swasta, setiap pulang mengikuti ujian tidak makan siang tapi marah-marah. Hal yang sama juga dilakukan teman-teman sekelasnya. Seorang ibu rumah tangga di Kajen menyebutkan, anaknya sering murung karena tidak bisa mengerjakan tiga soal UAN utama, namun kondisi demikian kini sudah berkurang setelah ujian utama usai dan dilanjutkan dengan mengerjakan soal-soal lokal. Kurang Disiplin Sejumlah orang tua siswa yang dihubungi menyebutkan, banyak faktor penyebab yang mengakibatkan mereka kesulitan mengerjakan soal ujian, di antaranya waktu belajar yang kurang disiplin dan kurangnya informasi, khususnyaa bagi siswa yang tidak mampu mengikuti les privat karena kesulitan biaya. Faktor lain, banyak pula siswa yang terbuai siaran tv yang justru ditayangkan pada saat mereka belajar. "Ada beberapa stasiun tv swasta yang menayangkan siaran menarik bagi remaja sebelum jam 19.00 - 22.00," kata ibu Santi. Pada jam itulah mereka mengorbankan belajarnya dan memilih nonton tv. Kepala Subdin SLTP-SM Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan Drs H Tri Panji Irianto MM membenarkan adanya sebagian siswa yang terganggu belajarnya beberapa waktu lalu menjelang ujian. Mereka umumnya tertarik menyaksikan siaran tv yang sudah menjadi idolanya setiap sore. Masalah itu terjadi akibat banyak faktor. Antara lain kurangnya disiplin orang tua dalam mengawasi belajar anak-anaknya. "Sebagai orang tua harus disiplin dan tegas," kilahnya. Sebagai contoh dia menyebutkan, mestinya jika waktunya belajar tv harus dimatikan. Jangan sampai terjadi anak-anak disuruh belajar, tapi orang tuanya nonton tv. "Ini namanya tidak adil," tambahnya. Menyinggung masalah tingkat kelulusan siswa, menurutnya, semua kalangan pendidik berharap bisa mencapai 100%, karena semua pihak yang peduli pendidikan sudah berupaya semaksimal mungkin. "Sampai bupati ikut terjun langsung mencari jalan keluar agar anak didik kita semua lulus," ujarnya. (P57-74) |