| Jumat, 14 Mei 2004 | PANTURA |
PNS Bakal Berseragam Batik SalemBREBES - Batik tulis salem yang berciri khas perpaduan Sunda-Jawa bakal digunakan sebagai seragam pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Brebes. Gagasan tersebut disampaikan Bupati Brebes H Indra Kusuma SSos di sela-sela kegiatan press tour dengan jajaran wartawan, Rabu lalu. "Saya telah merencanakan PNS di lingkungan Pemkab mengenakan seragam batik salem tiap Jumat," kata dia didampingi istri Ny Hj Maryatun. PNS yang bakal mengenakan seragam batik, lanjut Bupati, ada 12.680 orang. Mereka akan memelopori pengenalan batik salem sebagai aset budaya masyarakat Brebes selatan. Jika itu bisa dimulai, nanti penduduk Brebes yang berjumlah 1,7 juta jiwa perlahan-lahan akan mengikutinya. Dengan demikian, pangsa pasar batik ke depan akan lebih baik. "Perajin juga akan dihidupi oleh permintaan pasar lokal," tandasnya. Batik salem kini diproduksi oleh 160 perajin di Desa Bentar dan Desa Bentarsar dengan produksi rata-rata per bulan 4.760 lembar. Pangsa pasar terbesar ke Jakarta dan kota besar lain. Motif yang populer dan banyak diminati, antara lain manggar, pisang bali, kopu pecah, sarung kawung, urat kangkung, unek, dan kawat rantai. Warna khas batik itu yaitu merah, cokelat, biru, dan abu-abu atau putihan. Harga tiap lembar kain batik Rp 75.000-Rp 80.000. "Namun, yang menggunakan kain dasar sutra lebih mahal dari kain biasa. Pada umumnya di atas Rp 100.000 per lembar," kata perajin Ny Min Ratminah. Spesifikasi Dia menyebutkan, batik tulis salem juga memiliki spesifikasi dalam pemeliharaan, khususnya dalam mencuci. Supaya warna bertahan sesuai dengan aslinya, kain batik dicuci dengan biji lerak. Menjemurnya pun tidak harus di terik panas matahari. "Jika dijemur di terik matahari, warna bisa berubah jadi buluk atau mlocoh (memudar)," ujarnya. Dari 160 usaha batik di Desa Bentar dan Bentarsari, warga sekitar merasakan usaha tersebut bisa menjadi salah satu mata pencaharian mereka. "Beberapa orang yang semula menganggur kini membantu menjadi pekerja di perbatikan," tutur Ny Min lagi. Pres tour wartawan dengan Bupati juga mengunjungi pusat kerajinan keramik Desa Malahayu Kecamatan Banjarharjo. Antara lain, ke tempat pembuatan keramik milik Mahfudin dan Warin di Desa Malahayu. Camat Banjarharjo Dupi Mahadi BA mengatakan, di Malahayu terdapat empat perajin keramik yang merupakan usaha turun-temurun. Usaha itu diawali dari kerja Mahfudin di sentra keramik Purwakarta-Jabar. Ilmu yang diperoleh ditularkan kepada saudaranya. (wh-74e) |