logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Mei 2004 PANTURA
Line

Wamugi Tak Boleh Mengajar sampai Akhir Semester

PEKALONGAN - Drs Wamugi, Dosen Bahasa Inggris STAIN Pekalongan, akhirnya tidak diperbolehkan mengajar sampai akhir semester ini. Keberadaannya akan digantikan dosen lain.

Demikian Ketua STAIN Drs Rozikin MA didampingi Pembantu Ketua I, Drs Imam Suraji MAg ketika ditemui Suara Merdeka di ruang kerjanya, kemarin. Sanksi itu diberikan setelah muncul demo dari mahasiswa yang menuntut Wamugi mundur atau dipecat dari STAIN.

Seperti diberitakan, gara-gara memutar kaset tentang Gus Dur yang sedang ceramah di gereja, membuat Wamugi, dosen STAIN didemo mahasiswanya dengan tuntutan agar dipecat. Tuntutan itu, menurut mahasiswa, merupakan akumulasi kekecewaan selama ini.

Menurut Imam Suraji, usulan mahasiswa agar Wamugi dipecat adalah berlebihan. Itu dilakukan karena mahasiswa sedang emosi. Namun setelah dialog dengan mahasiswa dan Wamugi sudah minta maaf, akhirnya emosi mahasiswa mulai reda.

Imam menjelaskan, untuk memberikan sanksi yang berat, diperlukan tahap demi tahap, apalagi masalah pemecatan. "Usulan pemecatan saya kira cukup sulit direalisasi, karena tidak sebanding dengan kesalahannya. Yang jelas, sampai akhir semester yang bersangkutan diistirahatkan tidak mengajar," tegasnya.

Dia mengakui, semula Wamugi tak mau dialog. Namun setelah didesak akhirnya dilakukan dialog dengan mahasiswa. Bahkan, akhir dari pertemuan itu sang dosen dengan mahasiswa saling bersalaman.

Disiplin Ketat

Sementara itu, Wamugi yang dihubungi di rumahnya kemarin mengakui tidak masalah atas sanksi yang diberikan kepadanya. Meski demikian, sebagai dosen negeri, pihaknya tidak sulit mengajar di tempat lain yang masih membutuhkan. Namun untuk sementara, dia akan memanfaatkan waktu untuk kemanfaatan orang banyak di rumahnya.

"Hampir setiap hari saya selalu menerima tamu yang akan minta bantuan pengobatan alternatif. Dan atas izin Allah, banyak yang sembuh," katanya.

Mengenai usulan mahasiswa agar dirinya dipecat, menurut Wamugi, tidak pas. Sebab pemecatan terhadap dirinya tidak ada dasar hukumnya. Dari kejadian itu, dia memperkirakan munculnya aksi mahasiswa diawali dari tindakan disiplin kampus yang diterapkan secara ketat oleh dirinya. Misalnya, mahasiswa memakai kaos, memakai sandal, dan lain-lain.

"Mereka itu saya minta keluar dari ruang kuliah. Kalau mereka tak mau, maka saya yang keluar," katanya.

Kemudian mengenai presensi kuliah, setiap mahasiswa minimal harus memenuhi 75%. Kalau kurang, mereka tak boleh mengikuti ujian. Meski demikian, pihaknya masih memberikan toleransi. Kalau mendekati 75%, masih diperbolehkan mengikuti ujian.

"Mungkin dengan penerapan disiplin yang ketat itu membuat mahasiswa jengkel. Mereka menganggap saya membenci, padahal tindakan itu diberlakukan karena ketidakdisiplinan mereka sendiri," katanya.

Kedisiplinan itu dia tegakkan di Fakultas Tarbiyah, mengingat mahasiswanya adalah calon guru agama.

"Mereka kan akan menjadi guru. Kalau calon guru tidak disiplin, nantinya akan berpengaruh pada anak didik," tegasnya.

Meski demikian, Fakultas Syariah juga diberlakukan sama dengan Tarbiyah. Toh disiplin itu akan lebih baik. (A15-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA