| Jumat, 14 Mei 2004 | SEMARANG |
Pembangunan Subterminal Angkot Diikuti Penataan JoharSEMARANG - Gagasan untuk membangun subterminal angkutan kota (angkot) dengan menggunakan bekas gedung bioskop Kanjengan, mendapat respon positif berbagai kalangan. Namun demikian, rencana itu perlu diikuti upaya menata kawasan Johar dan Alun-alun secara menyeluruh. Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang dari FPDI Perjuangan Ir Purwono Bambang Nugroho, Kamis (13/5) mengatakan, kawasan Johar dan sekitarnya memang sudah saatnya memiliki subterminal atau setidaknya tempat transit angkutan kota dan Pemkot wajib menyediakan. Selama ini, akibat kewajiban itu tidak dipenuhi, angkutan kota mangkal di sembarang tempat. Lalu lintas di sekitrar pasar itu pun kian semrawut, dan menyebabkan warga enggan datang. Jika kondisi semacam itu dibiarkan, pedagang pula yang akan rugi. ''Pamor pasar pun makin redup,'' kata dia. Namun dia meminta Pemkot mengkaji secara cermat, apabila lokasi yang dipilih sebagai subterminal adalah Kanjengan. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, mulai dari status gedung bekas bioskop dan pertokoan Kanjengan itu, pengaruhnya pada pedagang, dan manajemen lalu lintasnya, termasuk alternatif jalur masuk dan keluar yang tepat. Dia tidak sependapat jika jalan masuk melalui jalan di tengah-tengah Yaik. Alasannya, tempat itu kini menjadi kios-kios yang dibangun pada revitalisasi tahap kedua. Jika jalur tetap lewat tempat itu, maka kios-kios itu harus dibongkar dan pedagang dipindah. Hal semacam itu bisa menimbulkan masalah sosial, yang merugikan Pemkot maupun pedagang. Dia menyarankan agar jalur masuk ke Kanjengan melalui Jalan Alun-alun Barat. Pembuatan terminal perlu diikuti pula penataan kawasan secara menyeluruh. Hal itu untuk menghilangkan kesan bahwa Pasar Johar identik dengan kesemrawutan. ''Banyak hal yang masih perlu dikaji lagi, terkait dengan rencana pembangunan terminal itu,'' kata dia. Jadi Pasar Sementara itu berdasarkan pengamatan, bawah bekas gedung parkir itu kini telah menjadi semacam pasar tradisional. Para pedagang kebutuhan sehari-hari seperti sayur dan bumbu dapur, banyak yang menempati lorong antara gedung parkir Pungkuran dan bekas gedung bioskop itu. Pada bagian bawah bekas gedung bioskop itu setidaknya terdapat 20 toko. Sebagian di antaranya untuk toko kelontong, toko emas, dan gudang. Sementara tangga masuk dari gedung parkir juga ditumpuki kotak-kotak kayu, yang membuat bangunan itu terkesan kumuh. Namun demikian, penjaga gedung Kanjengan, Yohanes mengatakan, pihaknya selalu berusaha menjaga kondisi gedung itu. Beberapa kali dinding gedung itu dicat, sehingga jika akan digunakan masih dalam kondisi baik. Dia juga sengaja mengunci pintu-pintu masuk ke gedung itu, dengan alasan keamanan. Dengan cara itu pun, pencuri masih bisa masuk dan mengambil barang-barang dari aluminium. ''Bagi yang ingin masuk, harus minta izin perusahaan,'' kata dia. Peneliti transportasi Unika Soegijapranata Drs Ir Djoko Setijowarno, mengatakan Kanjengan cukup cocok untuk subterminal. Bahkan prasana itu bisa dibuat menjadi dua atau tiga lantai dengan berbagai fungsi. Paling bawah untuk subterminal, sedangkan lantai dua dan tiga bisa digunakan sebagai pertokoan atau tempat dasaran. Apabila memungkinkan, bangunan tersebut bisa digunakan pula sebagai tempat parkir mobil. Selama ini, pemilik mobil sering kesulitan masuk ke Johar karena tidak ada tempat parkir yang sesuai. Mereka enggan memanfaatkan gedung parkir Pungkuran karena kesulitan untuk masuk. Selain sempit, di kanan-kiri jalur itu juga selalu dipadati pedagang. Seandainya rencana membuat subterminal jadi dilaksanakan, Pemkot harus bisa menjamin akses masuk dan keluar dari lokasi itu lancar. Selain subterminal, menurut dia, Pemkot harus memikirkan tersedianya lahan untuk bongkar-muat barang. Selama ini, bongkar muat selalu dilakukan di jalan, dan biasanya pada pagi atau malam hari. ''Walau lalu lintas tidak selalu terganggu, namun keliru jika fungsi jalan digunakan sebagai tempat bongkar-muat,'' kata dia. (G6-45) |