logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Mei 2004 SEMARANG
Line

Ujian Listening Perlu Ditinjau Kembali

  • Seharusnya Melalui Perencanaan

SEMARANG- Ujian Akhir Nasional (UAN) Bahasa Inggis untuk siswa kelas III SMA dan sederajat yang mengujikan listening sebaiknya ditinjau kembali, mengingat kesiapan tiap-tiap daerah dan sekolah tidak merata.

Akibatnya, banyak siswa mengaku kesulitan menjawab soal-soal tersebut dengan berbagai alasan seperti terlalu cepat pengucapannya, gangguan dari luar yang memecah konsentrasi, dan tidak adanya pemberitahuan bahwa tidak ada pengulangan pembacaan soal-soal listening.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pendidikan Jateng Prof Dr Retmono menyarankan, setiap kebijakan mengenai UAN seharusnya melalui perencanaan yang menyeluruh dan komprehensif melalui proses musyawarah dengan daerah-daerah di seluruh Indonesia.

"UAN adalah ujian nasional, soa-soal yang diujikan seharusnya sama. Karena itu, yang diajarkan juga harus sama," paparnya di sela-sela rapat internal Dewan Pendidikan, Kamis (13/5).

Apalagi, ujar dia, ada beberapa faktor nonteknis yang tidak bisa dihindari yang dapat memengaruhi hasil ujian. "Sekolah yang letaknya dekat dengan jalan raya, bandara, atau sumber keramaian akan sangat berbeda dari sekolah yang berada di tempat tenang," ungkap mantan Rektor IKIP Negeri Semarang itu.

Kualitas Guru

Retmono menekankan, siswa dalam mengerjakan tes listening sangat dipengaruhi kualitas guru, sarana sekolah, dan suasana sekolah serta kemampuan sekolah tersebut.

"Ada sekolah yang sejak dini menyiapkan siswa dengan native speaker, buku-buku dan pelatihan yang matang, serta ada pula siswa yang baru kali pertama ini mengalami ujian listening," papar salah seorang pengajar di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.

Menurut pandangan dia, ujian mata pelajaran Bahasa Inggris dengan memberikan soal listening tahun ini sepatutnya menjadi pelajaran yang berharga bagi pembuat kebijakan UAN. Untuk tahun berikutnya, perlu sososilalisasi lebih lanjut melalui pematangan kurikulum yang terprogram dan tertulis secara jelas.

Menurut pandangan Retmono, prinsip dalam sebuah ujian adalah mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap pelajaran yang telah diberikan guru. "Kalau misalnya pada semua SMA ditetapkan untuk mengikuti ujian listening, padahal tidak semua sekolah mengajarkan dan memiliki perlengkapan minimal, para siswa akan sulit mengerjakannya," tandasnya. (wid-73j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA