| Jumat, 14 Mei 2004 | BANYUMAS |
Dimarahi, Siswa SD Gantung DiriCILACAP - Enggar Tri Handoko (13), murid kelas VI sebuah SD di Kecamatan Cilacap Selatan, Rabu (12/5) siang, ditemukan tewas gantung diri. Tubuhnya tergantung dengan seutas tali yang diikatkan ke tiang kayu di kamar. Dalam laporan di Mapolres Cilacap disebutkan, tinggi tiang gantungan 285 cm. Saat ditemukan kaki Enggar 26 cm di atas lantai. Setelah ditemukan Rabu pukul 12.00 WIB, mayatnya dibawa ke Puskesmas Cilacap Selatan untuk diperiksa. Dalam pemeriksaan diketahui bocah malang itu telah meninggal dunia. Kapolsek Cilacap Selatan beserta empat anak buah segera ke rumah orang tua korban di Jalan Perkutut Timur 39 RT 5 RW 5 Tegalreja, Cilacap Selatan, untuk menyidik. Dalam penyidikan diketahui pagi hari sebelum ditemukan tewas, Enggar dimarahi sang ayah karena terlambat bangun. Saat marah itulah, menurut laporan di Polres, sang ayah yang berinisial Gt mengatakan, ''Kalau tidak mau sekolah, minggat saja!'' Setelah dimarahi anak lelaki itu masuk ke kamar dan mengunci diri. Sampai siang hari dia tak keluar kamar. Sekitar pukul 12.00 WIB pintu kamarnya didobrak. Saat itulah dia ditemukan sudah tak bernyawa. Sampai kini penyebab pasti tindakan nekat Enggar belum diketahui. Frustasi Dra Reni Kusumowardhani, psikolog di RSUD Cilacap, menyatakan semua faktor harus diperhitungkan untuk memahami alasan siswa SD itu bunuh diri. ''Termasuk, faktor keluarga serta pergaulan di masyarakat dan sekolah. Tanpa itu sulit mengetahui secara pasti penyebabnya,'' kata dia. Namun bisa dipastikan tingkat toleransi frustrasi Enggar rendah. ''Itu bisa dilihat dari jalan yang dia pilih untuk melepaskan diri dari tekanan, yaitu bunuh diri,'' kata dia. Sebenarnya semua manusia pasti pernah mengalami tekanan dari luar. Namun bila memiliki tingkat toleransi frustrasi tinggi, orang itu akan memilih jalan lain selain mengakhiri hidup. Karena itulah dia meminta orang tua belajar berkomunikasi dan memahami jalan pikiran anak. ''Orang tua jangan egoistis. Mereka harus mampu menciptakan bentuk komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dan harus mampu memahami anak. Dengan cara itu, saya yakin anak-anak tak akan cepat frustrasi dan berpikiran pendek,'' ujar dia. (G21-86) |