logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 12 Mei 2004 PEMILU 2004
Line

Nasionalis-Religius Jadi Komoditas Politik

SEMARANG - Nasionalis-religius menjadi komoditas politik dalam Pemilu 2004. Beberapa partai politik (parpol) mencoba menawarkan formula tersebut untuk meraih dukungan massa. Fenomena itu terejawantahkan dengan kemunculan Partai Demokrat. Partai yang dipimpin Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu sanggup membaca peluang tersebut dengan baik. Tak heran jika pada akhirnya mereka mendapatkan suara cukup signifikan bagi sebuah partai politik baru.

Hal itu dikatakan salah seorang Ketua PP Muhammadiyah Pof Dr Din Syamsuddin dalam sarasehan nasional bertema ''Membongkar Gerakan Politik Nasionalisme Religius dalam Konstelasi Pemilu 2004'' yang diselenggarakan Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KMSW) dan BEM IAIN Walisongo di Auditorium I Kampus I IAIN Walisongo, Selasa (11/5).

Dalam situasi politik Indonesia, kata dia, dua aliran besar yakni Islam dan nasionalis sama-sama tidak sanggup mendominasi. Formula nasionalis-religius akan senantiasa efektif. Nasionalis-religius, lanjut Dien Syamsudin, merupakan modifikasi politik aliran yang selama ini berkembang di Indonesia. Setelah tereliminasi sepanjang masa Orde Baru, fenomena politik tersebut kembali muncul ke permukaan. ''Setelah reformasi, politik aliran muncul kembali. Ini realitas politik yang menandai bangkitnya kecerdasan masyarakat,'' kata dia.

Orientasi politik umat Islam saat ini telah bergeser. Jika dulu golongan santri memilih partai Islam, kini hal itu tidak lagi dapat dipastikan. Din menunjukkan data bahwa keluarga besar Muhammadiyah yang memilih PAN hanya 32%, selebihnya memilih PKB 19% dan Golkar 20%. Lalu, di Jawa Tengah, sembilan anggota PMII menjadi caleg Golkar. ''Orientasi Islam kita cenderung mengikuti slogan Cak Nur: Islam yes, partai Islam no,'' tutur Din.

Masih Sedikit

Kaum abangan pun, katanya, masih sedikit yang memilih partai Islam atau partai yang berbasis umat Islam. Sekalipun mereka telah menyatakan sebagai partai pluralis, dukungan dari kalangan abangan tetap kecil.

Sementara itu, Prof Dr Said Agil Siradj menilai kecenderungan politik Nahdlatul Ulama (NU) sebagai nasionalis-religius. Dia menunjukkan fakta bahwa pada masa lalu para kiai berjuang lebih berlandaskan semangat nasionalisme. ''Tentara Sekutu di Semarang dapat dikalahkan oleh semangat nasionalisme rakyat yang sebagian besar nahdliyyin.''

Lebih lanjut kata dia, secara terminologi, nasionalisme dengan religius tidak dapat dipetakan dalam kerangka hitam putih. Dalam tataran sosial, tidak ada perbedaan antara keduanya. ''Banyak kalangan abangan yang bersih dan jujur, sedangkan tidak sedikit pula kelompok religius yang melakukan KKN,'' tuturnya. (roe-78e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA